TAMBUR

Karya : Eka Puspita Wardani


Terang mengisi kekosongan semburat mega langit fajar. Satu per satu bintang

pudar menjauhi cakrawala. Pagi itu membawa kami pada hangatnya jarak yang

pekat, mengisi setiap celah sedu dengan petikan senar dawai gitar itu. Bibir kami

menapal irama tanpa henti, seraya tersenyum sesekali.

“Aku ingin mendengarkan lagu”

“Mau lagu apa?”

“Terserah”

Dipetiknya senar gitar itu, ditariknya nafas panjang-panjang. Bibirnya kembali

berirama serentak dengan jari tangannya yang lihai dalam menciptakan nada.

Mata gadis itu terpejam, seakan hatinya melalang buana ikut terbang dengan

kawanan burung merpati yang malang-melintang memenuhi horizon pagi.

“Lagu apa?”

“Terserah”

Dan mulai digenjreng gitar hitamnya itu, terdengar alunan merdu yang mendayu-

dayu. Seperti alarm pagi yang menghajar telinga subuh, menenangkan sekaligus

melelapkan. Seperti playlist yang memutar puluhan lagu. Lelaki itu memulai

dengan bahasa kalbu yang penuh dengan enigma rasa, sahdu renjana.

“Sekarang lagu apa?”

“Terserah”

Lelaki itu terdiam sebentar, ia menaruh gitar yang sedari tadi ia rangkul. Bola

matanya terlempar ke sudut kantong yang berisi gawai dan selembar uang kertas.

Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan gawai, lalu meletakkan kembali lembar

sepuluh ribu yang ikut terambil ke kantong celananya.

Gadis itu menunggu, langit pagi mulai membiru beserta cahaya yang mulai

menembusi sudut-sudut genting sanggar. 300 detiknya ia habiskan dengan

memandangi Tambur yang sibuk dengan gawainya. Bibirnya mengerucut, kedua

alisnya bertemu seakan hendak bersilaturrahmi, akan tetapi Tambur tetap dengan

gawai dan seperangkat charger pengisi baterai. Suasana saat itu mulai ramai, tapi

jiwa gadis itu hening menunggu Tambur memetikkan senar dawai untuk

menghiburnya.

Tambur memeluk gitarnya lagi. Gadis itu tersenyum, Tambur tersipu. Kemudian,

sesekali mata mereka bertatap-tatapan. Ia mulai meraba-raba badan gitarnya,


mencari kunci yang tepat agar nada yang ia buat menghasilkam makna secara

tersurat.

We wish you a merry Christmas

We wish you a merry Christmas

We wish you a merry Christmas and a happy new year

Gadis itu bangun, matanya setengah terpejam setengah terbuka. Ia memotong

antrian disaat genjrengan gitar memenuhi lubang telinganya.

“Kenapa lagu itu yang kamu mainkan?”

“Kenapa? ”

Tambur kembali menggenjreng gitarnya, melanjutkan jingle bell yang

sebelumnya. Gadis itu menyela lagi.

“Agama kita memiliki batas dalam bertoleransi,”

“Kenapa? Aku hanya bernyanyi”

“Sebaiknya lagu-lagu yang bertentangan dengan aqidah seorang muslim

dihindari”

“Lalu, di mana letak toleransinya?”

“Dengan kita tidak mengganggu ibadah mereka”

Tambur mengangguk perlahan, tanpa berkomentar panjang. Ia kembali menaruh

gitarnya. Kali ini, gelagatnya serius ingin mendengar gadis itu berbicara.

“Itulah mengapa, setangan leher ini bewarna merah dan putih, dari sini apa sudah

paham?”

“Aku selalu memahami semua yang kamu ucapkan, kecuali satu”

“Apa itu?”

“Terserah”

Tambur tertawa kecil, gadis itu juga. Kata terserah membawa asumsi liar di

kepalanya. Ia tidak berani bertanya lagi. Terserah adalah jawaban terakhir yang

harus ia pintal rajutannya agar temu titik sentral apa yang gadis itu siratkan.

“Aku tidak akan bilang terserah lagi”

Tambur meraih gitarnya lagi, kali ini dia mengambil kunci C dengan menekan

senar 2 pada fret pertama. Aransemen yang memberi kedamaian pada gadis itu,

aransemen yang menyuratkan pilu menjadi candu.

“Mau lagu apa?”


“Apa kata kamu”

Tambur keluar dari zona kalemnya. Tertawanya yang terkekeh-kekeh

menggetarkan sekujur tubuhnya. Wajahnya memerah, hidungnya melebar dan

mengempis. Namun, tetap saja ia berdekak-dekak di depan gadis itu. Beberapa

kali Tambur menggeliat dan akhirnya berhenti dengan mesemnya yang khas.

“Apa bedanya”

Ucap Tambur di sela transisi antara tertawa dan kembali ke keadaan semula.

“Aku selalu menyukai irama yang kamu alunkan, Tambur”

“Yakin Cuma itu?”


Biodata Penulis :  Eka Puspita Wardani dari FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2019