Ratih
Karya : Putri Rindiani Ratih
Malam itu hujan
turun lebat, membasahi tanah yang sudah cukup lama kering. Suhu lingkungan yang
menurun membuat anak kecil itu meringkuk didalam selimutnya, disebuah rumah
kecil pinggir kota. Tidak, anak itu tidak tertidur. Ia sibuk bersembunyi di
balik matanya yang terpejam.
“
Terserah, aku sudah lelah menghadapimu!” teriak laki-laki didepan wanita itu,kemudian
dengan langkah besar ia keluar rumah.Wanita itu hanya diam, diikuti dengan
sebuah cairan bening yang turun membasahi pipinya. Kemudian, ekor matanya
bergerak ke arah kanan, tempat anaknya terlelap.
****
Ratih,
wanita dengan rambut sepunggung itu sibuk membersihkan meja pelanggan di rumah
makantempatnya bekerja. Jam menunjukkan pukul 16.00, waktunya ia pulang.
Kakinya
berjalan perlahan, Ratih menikmati angin sore yang menerbangkan helai-helai
rambutnya. Tampak di seberang jalan banyak remaja seumuran dengannya yang
sedang asyik menyantap makanan ringan, mereka adalahanak sekolah menengah, ituterlihat
jelas dari seragam putih abu-abunya.‘mungkin baru pulang sekolah’ pikir Ratih.
Ratih tersenyum tipis, ada satu bayangan yang terlintasdi otaknya ‘bagaimana
rasanya memakai seragam sekolah?.’
“aish
apa yang kupikirkan. Bisa makan dan membayar sewa saja sudah untung” gumamnya
pelan sambil memainkan tali tas ranselnya. Sebuah ransel kusam yang selalu ia
kenakan tiap hari, baru tadi pagi ia menjahit bagian talinya yang lepaslagi.
Setelah
lama berjalan akhirnya Ratih sampai dirumahnya. Bukan milik pribadi, namun
rumah sewa bulanan.
cklekkk
“ibuuuu
ratih pulang.” Sapa Ratih
“ibuuu”
“apa
ibu tidur?” ucapnya sambil membuka bilik kamar belakang dan depan. Namun, ia
tak menemukan keberadaan ibunya. Kemudian kakinya melangkah menuju dapur, mungkin
saja ibunya sedang siap-siap memasak.
Tiba-tiba
langkah kakinya terhenti.
‘ah
iya, ibu sudah meninggal’ batin Ratih. Seutas senyum miring tercetak di wajah
manisnya. Ia belum terbiasa tanpa ibunya, satu satunya orang yang setia
merawatnya dalam keterbatasan biaya.
“kenapa
ini terasa sangat sepi” gumamnya
Tok
tok tok
Mendengar
ada ketukan pintu, Ratih segera menuju ke ruang depan.
Cklekk
“ah
ibu, anu bu saya belum punya u.....”
Belum
selesai kalimat Ratih, pemilik rumah itu langsung menyela “ini sudah akhir
bulan.” Katanya tegas sambil berkacak pinggang.
“iya
bu, saya janji besok. Saya langsung antar uangnya kerumah ibu” ucap Ratih
“baiklah,
saya tunggu. Kalau besok masih tidak bisa bayar. Lusa kamu harus keluar dari
rumah ini!” Ketus si pemilik rumah, kemudian detik selanjutnya ia melenggang
menjauh dari sana.
Wanita
berkulit langsat itu kembali masuk ke dalam rumah, Ia terduduk di lantai. Ia
bingung, uang sewa bulan ini masih kurang. Pemilik rumah makan hanya
membayarnya setengah upah karena ada persoalan keuangan. Ah iya, ia bisa mengamen saja di alun-alun kota.
Sudah lama Ratih tak mengamen, semenjak ia mendapatkan pekerjaan di rumah
makan.
Kemudian
ia beranjak menuju gudang, mencari keberadaan gitarnya. Bersandar iadipojok
ruangan, sebuah gitar berwarna hitam legam pemberian mendiang ibunya dulu.
****
Anak
kecil itu berlari kencang, melepaskan kedua tangannya dari genggaman orang
tuanya. “Ratihh jangan lari-lari nak, awas terjatuh” ucap ibu ratih
“sudahlah
bu, biarkan saja. Namanya juga anak kecil, ayo kita susul” ajak ayah ratih
sambil merangkul istrinya.
Ratih
menghampiri pengamen yang sedang menyanyikan sebuah lagu sambil bermain gitar.
Matanya berbinar kala melihat benda berdawai itu dimainkan.
****
Setelah
lama berjalan kaki menuju alun alun kota, Ratih memilih tempat dibawah pohon
palem untuk aksi mengamennya. Tak lupa ia taruh kaleng bekas yang ia temukan
saat perjalanan tadi sebagai tempat uang.Setelah siap, kini petikan petikan dawai
gitar ratih mulai terdengar. Mengalun lembut mengisi petang di Alun-alun kota.
Pagi telah pergi
Mentari tak bersinnar
lagi
Entah sampai kapan
Ku mengingat tentang
dirimu
Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Memanggil namamu di setiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Di mimpiku, rindu
Dan bayangmu
Akan selalu bersandar di hatiku
Janjiku pasti kan
pulang bersamamu
Ku hanya diam
Menggenggam menahan
segala kerinduan
Memanggil namamu di
setiap malam
Ingin engkau datang dan
hadir di mimpiku
Rindu
Selesai. Suara tepuk
tangan penonton riuh terdengar, wanita dengan tinggi 158 sentimeter itubaru
sadar banyak yang menonton pertunjukannya karena sedari tadi ia terlalu
menikmati lagu, ia merindukan ibunya. Beberapa saat kemudian banyak orang yang
memasukkan uang kedalam kaleng bekas itu, mungkin orang orang itu menyukai isi
lagunya, menyukai pertunjukan musik ratih, ataupun iba terhadap penampilan
pakaian ratih. Yang ia kenakan hanya sebuah jaket rajut kusam yang ibunya dulu
jahitkan, dengan setelan rok panjang lusuh yang pengaitnya rusak. Juga, dengan
sandal jepit berwarna putih.
****
“lumayan hasilnya,
sepertinya bisa untuk membayar sewa” Ratih tersenyum sembari kembali menghitung
uang hasil mengamennya. Kemudian ia bangun dari posisi duduknya di trotoar
bergegas mengambil gitarnya yang tergeletak di badan pohon.
Ratih perlahan jauh
dari alun-alun kota, yang ia tuju kini rumah ibu pemilik rumah. Langkahnya
ringan nan bersemangat, dengan ini ia tak akan diusir dari rumah.
Naas, hal yang tak
diharapkan terjadi.Pengendara motor matic itu menyerempetnya dengan sengaja,
hingga ratih terjatuh dan sikunya menghantamkeras aspal jalanan. Sibuk dengan
sikunya yang berdarah, ratih kehilangan uang yang harusnya ia bayar sewa
rumahnya.
Dengan
keadaan berdarah dan lemas ia berjalan perlahan menuju ke rumahnya. Habis sudah
uangnya. Entah bagaimana nasibnya esok. Yang kini ia inginkan hanyalah segera
sampai dirumah dan beristirahat.
Cklekkk
“ibuu
ratih pulang” ucapnya sambil meletakkan gitarnya yang ujungnya tergores karena
tadi terpental menghantam aspal.
“ah
perihh.Ibuu, bisa bantu ratih mengoba...”
“ah
iya ibu sudah meninggal” gumamnya sambil menatap kosong lantai rumah.
Alih
alih mengobati lukanya, ia malah duduk termenung di kursi. Padahal sudah
setahun lebih ibunya telah meninggal. Namun sampai saat ini ia belum terbiasa.
Segala tingkah kemanjaan pada ibunya masih terbawa sampai saat ini.
****
11
tahun yang lalu
Ratih
yang masih berusia 5 tahun sedang duduk di pangkuan ibunya. Rambut anak kecil
itu tengah dikepang. Kemudian satu kalimat celetukan terlontar dari bibirnya.
“ibu,
ayah kemana?Sudah lama ratih tidak melihat ayah. Apa ayah sibuk kerja?”
Namun
ibu ratih tak menjawab. “Ratih sudah belajar? Bulan depan kan Ratih sudah mulai
bersekolah.” Ucapnya mengubah topik.
“belum,
bu”.
“yasudah,
ayo belajar bersama ibu”.
Sudah
tiga bulan lamanya ayah ratih tak ada kabarnya, terakhir kali ia pamit ada
pekerjaandiluar kota. Tak sekalipun ia mengirim uang untuk istri dan anaknya. Kini,Kondisi
keuangan keluarga ratih sudah habis. Mau tak mau ibu ratih harus membanting
tulang untuk kelangsungan hidupnya dan anak semata wayangnya.
Dengan
ijazah yang hanya lulusan sekolah dasar, tak ada lowongan kerja yang dapat ia masuki. Sudah
satu minggu ia mencari pekerjaan. Namun tak kunjung menemukan pekerjaan. Harus
ia beri makan apa anaknya? Pikir ibu ratih. Hingga ia duduk diteras sebuah
warung makan, ia tak masuk kedalam untuk memesan sebuah makanan. Tak ada uang
untuk membayar. ia hanya butuh istirahat sejenak setelah berkeliling mencari
pekerjaan.
Namun
memang tuhan murah hati, ibu ratih mendapatkan pekerjaan di rumah makan itu. Ya
walau hanya sebagai tukang cuci piring. Tapi itu lumayan untuk menghidupi anak
tunggalnya, Ratih.
Kemarin
harusnya upah pertamanya “cair”. Namun hingga hari ini upah itu belum ia
terima. Ibu ratih mencoba memberanikan diri menanyakannya pada pemilik rumah
makan. Bukannya gila uang, ia memang butuh uang itu untuk biaya pendaftaran
sekolah anaknya.
“bu
, mohon maaf kalau saya lancang. Bukankah sejak kemarin harusnya saya
mendapatkan upah?” ucap ibu ratih.
“kalau
saya belum kasih yasudah terima saja. Kerja disini hanya karena saya iba saja
banyak gaya. Sudah sana lanjut kerja!” bentak si pemilik rumah makan.
“tapi
saya butuh bu, untuk uang sekolah anak saya”.
“ya
itu bukan urusan saya. Sudah sudah sana!” ucapnya sambil mendorong bahu ibu
ratih sampai pundak lemah ibu ratih terbentur ke tembok.
Ibu
ratih mengalah, ia kembali ke dapur rumah makan dan kembali menyuci piring
kotor dengan giat. Ia tak ingin kehilangan pekerjaannya.
Sedangkan
diujung depan sana Ratih mendengar semua isi percakapan tadi. Niat hati
menjemput ibunya pulang dan mengajak ibunya berbelanja seragam untuknya. Namun,
Ratih mengurungkan niatnya. Ia memilih pulang kerumah. Perlahan ia meninggalkan
tempat ibunya bekerja, dengan sandal jepityang talinya sering lepas dan alasnya
sudah tipis.
****
Cklekkk
Bunyi
pintu terbuka membuyarkan lamunan wanita bermata sipit itu, sosok lelaki paruh
baya menampakkan batang hidungnya. Sosok yang ia benci, biarlah ia berdosa akan
hal itu. Ia akan tetap membenci orang yang ada dihadapannya saat ini.
“ada
apa lagi kau kemari?” ketus Ratih
Mendengar
perkataan ratih yang ketus, lelaki itu dengan langkah cepat menghampiri ratih
dan menjambak rambutnya dengan keras hingga ratih meringis.
“Dasar
tak punya sopan santun. Aku ini ayahmu!”
“aku
tidak punya ayah berengsek sepertimu!!!!” jerit ratih sambil berusaha
melepaskan jambakan dari sang ayah.
“kurang
ajar!”
plakkkk
Pipi
ratih merah padam setelah satu tamparan mendarat sempurna di pipi kanannya.
“apalagi
kali ini? Kau butuh uang berapa lagi? Berselingkuh dari ibu saja kau mampu.
Membiayai hidupmu sendiri kau tak mampu hah?! Kemana pelacur itu? Mintalah uang
padanya!!!” teriak ratih mengeluarkan semua emosinya.
Plakkkkk
Belum
sembuh rasa panas di pipi ratih, sosok di depannya sudah menamparnya lagi.
“jaga
omonganmu Anak bodoh!” geram lelaki itu.
“kau
yang harusnya jaga omongan. Dulu kau sosok yang aku idolakan. Sosok ayah yang
baik untuk anaknya. Sosok yang aku agungkan saat aku bercerita dengan teman
temanku. Tapi apa? Sosok itu ternyata hanya pecundang yang meninggalkan ibu
demi orang lain! Menelantarkan anak istrinya tanpa ada rasa tanggung jawab
sedikitpun. Kau membawa lari semua harta dan tak pernah kembali. Kini kau baru
ingat aku anakmu. Pergilah, aku tak punya uang.” Ucap ratih sambil mengelus
pipinya yang merah padam dan terasa panas.
“bela
saja ibumu itu. Wanita bodoh itu tak akan hidup lagi sekalipun kau membelanya
mati matian!!” ucap pria itu memancing emosi ratih.
“iya!
wanita bodoh itu tak akan hidup lagi. Biar saja ia tenang disana, hidupnya
terlalu mahal jika hanya untuk diselingkuhi dan membiayai hidup suami dan
selingkuhannya! Pergi kau dari siniii!! Pergiiii!! Teriak ratih keras sambil
menangis histeris.
Akhirnya
lelaki itu pergi dari rumah ratih. Menyisakan ratih dengan seribu luka yang
sedang ia pikul, semua kenangan indah itu berputar di otaknya. Semua momen saat
keluarganya masih bahagia.
****
“Ibu.
Ayah. Ratih bisaa, ratih tidak terjatuh lagiii.” Ucap ratih kecil bersemangat
sambil terus mengayuh sepeda roda tiganya.
Ibu
dan ayah ratih tersenyum lalu tertawa. Anak mereka begitu menggemaskan.Kemudian
ibu ratih mengeluarkan kameranya. “ibu sedang apa?” tanya ayah ratih sambil
merangkul pundak ibu ratih. “hanya iseng. Ibu ingin mengabadikan momen saja”
jawab ibu ratih.
“Ratih,
sini sayang” teriak ibu ratih sambil melambaikan tangan pada anaknya yang asyik
mengayuh sepeda.
“kring
kringg ratih sampai”. Ucap bocah itu didepan orang tuanya. Kemudian ayah ratih
mengangkat ratin dan menggendongnya. “anak ayah sudah besar” ucapnya.
“anak
ibu juga yahh” kata ibu ratih sambil pura pura cemberut.“iya iya anak ibu juga.
Ayo masuk ke rumah, tadi ayah sudah memancing ikan. Tolong masakin ya bu.”Kata
ayah ratih sambil merangkul ibu ratih dan ada ratih dalam gendongannya.
“siapp
yahh”. Jawab ibu ratih,lalu mereka tertawa bersama.
****
Kelopak
mata itu perlahan terbuka. Diliriknya jam dinding ditembok yang menunjukkan
pukul 11 malam. Ratih ketiduran. Ia dapat rasakan sikunya perih dan matanya
bengkak. Ah ia ingat, tadi ia jatuh keserempet. Dan juga ia bertengkar dengan
ayahnya. Melelahkan, batinnya. Kemudian ia bangkit untuk makan, perut
keroncongan membuatnya terbangun dari tidur. Ia buka tudung saji di dapur.
Namun tak ada apapun disana. Ratih baru ingat, jika tadi ia dirampok dan tak
ada uang untuk membeli makanan.
Ratih
kembali menuju kamarnya, ruangan tempatnya dan ibu menghabiskan waktu. Juga
tempat ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.Ratih membuka pintunya, nampaklah
isi ruangan itu. Ranjang tidur terbuat dari kayu yang sudah lapuk termakan
rayap. Juga lemari baju yang sama terbuat dari kayu dan sudah lapuk.
Ia
berjalan menuju lemari. Ia buka lemari itu, dan mengambil satu baju yang dulu
sering mendiang ibunya pakai. Ratih duduk dikasur, kemudian memeluk baju
ibunya. Ia hirup dalam-dalam baju itu, mencoba menikmati aroma ibunya yang
masih tertinggal. Mencoba mengobati kerinduannya. Menangis, ia menangis. Luluh
segala pertahanan hatinya jika sudah mengingat ibunya. Tiba-tiba segelintir kenangan
memenuhi ingatannya.
****
Aku
mendengar pintu depan dibuka. Ibu sudah datang. Aku harus cepat membersihkan
air mata dan ingusku. Jangan sampai ibu tahu aku menangis. Lalu aku berpura-pura
tidur dan memakai selimut.
“Ratih
tidur?” tanya ibu.
Aku
mengerang, pura-pura terbangun. Walaupun umurku baru lima tahun aku sudah
pandai berakting.
“ibu
baru pulang?” tanyaku sambil mengucek mata.
Ibuku
tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku “iya, sekarang ratih cepat siap siap.
Ayo beli seragam sekolah”. Ajaknya. Aku tersenyum, lalu menggeleng.
“apa
ratih sakit? ibu berangkat sendirisaja ya belinya, ratih tidak usah ikut.”
ucapnya sambil memegang dahiku, mengecek suhu badanku.
“tidak,
bu. Ratih tidak sakit. Ratih tidak mau beli seragam”. Ucapku
Sontak
saja ibu kaget, “kenapa? Nanti ibu belikan ratih seragam yang bagus untuk
sekolah. Kenapa tidak mau?”Tanya nya.
“ibu,
ratih tahu kalau ibu tidak punya uang.” Ucapku jujur
Ibuku
menggeleng “tidak, sayang. Ibu punya uang banyak untuk ratih.
“tidak,
bu. Ratih tidak mau. Ratih membantu ibu di warung saja. Ratih bisa kok mencuci
piring” ucapku meyakinkan ibu.
“tugasmu
sekolah.Sudah, ibu mau belikan kamu seragam”. Ucap ibuku sambil berdiri hendak
membeli seragam katanya.
“dapat
uang darimana bu? Ibu jangan bohong. Makan dengan teratur saja ratih sudah
senang kok. Apalagi kalau ibu masak tempe kesukaan ratih.” Ucapku jujur, tempe
goreng buatan ibu memang yang terbaik.
Ibu
menangis, lalu menghambur memelukku. “maafkan ibu nak, andai saja ibu bisa
menghasilkan uang banyak untukmu.”
“andai
ibu kaya, kau pasti bisa sekolah. Andai saja....”
“ibu
jangan menangis. Nanti ratih juga ikut menangis buu” ucapku
Ibu
menghapus air matanya “iya sayang , ibu tidak menangis lagi”.
“Ratih
sayang ibu.”
“iya,
ibu juga sayang ratih” ucap ibuku sambil mencium puncak kepalaku.
“ya
sudah, ibu mandi dulu. Badan ibu bau, ratih ibu tinggal dulu ya.”
“iya,
bu.”
Lalu
ibu beranjak dari kamar, tak sengaja aku melihat pergelangan tangannya. Gelang
emas yang dulu selalu ibu gunakan tidak ada lagi.
Malam harinya
“ratih
mengantuk bu, ratih tidur dulu ya”. Ucap ratih pada ibunya
“iya
nak, tidurlah. Yang nyenyak sayang, semoga mimpi indah.” Ucap ibu ratih sambil
memakaikan selimut dan mencium kening ratih
30 menit
kemudian
Tok tok tok
“siapa?”
tanya ibu ratih lalu beranjak keluar kamar.
Ratih
sendiri belum tertidur dari tadi, matanya hanya terpejam. Entah kenapa sulit
sekali tertidur.
“ayah?
Ada apa lagi?” suara ibu ratih dari
ruang tengah.
“aku
butuh uang.” Jawab ayahratih.
“bukannya
semalam sudah aku beri gelang? Apa itu kurang?”.
“kurang
lah. Masih tanya. Sudah, cepat beri aku uang.”
“tidak,
kau gunakan untuk apa uang itu? Untuk menghidupi selingkuhanmu? Iya? Jawab.”
Suara ibu ratih meninggi.
Plakkkk
“berani
kau sama suami? Aku suami mu!!” suara ayah ratih terdengar lebih keras dari
sebelumnya. Ratih takut. Ia bersembunyi dibalik selimut. ia menangis.
“sudahlah,
pergi dari sini. Selama ini kau pamit bekerja keluar kota. Tapi minggu kemarin
kau ada disekitar sini. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kau
beraninya bersama wanita lain. Tapiaku tak apa, kau boleh mencampakanku sesuka
hatimu. tapi ingatlah anakmu. Dia membutuhkanmu. Ia masih kecil, dan sangat
butuh sosok ayah dalam hidupnya. Ia juga butuh nafkah, ia juga butuh sekolah.
Aku sampai tak mampu menyekolahkannya hanya karena aku berbaik hati memberimu
uang dan harta dengan alasanmu untuk biaya hidup diluar kota. Tapi ternyata kau
gunakan hanya untuk hidup bersama selingkuhanmu. Aku lelah.Sampai sini saja.
Ayo bercerai.”
“terserah,
aku juga sudah muak menghadapimu!” tegas ayah ratih lalu pergi dari rumah.
Rumah yang dulu mereka sewa bersama untuk keluarga kecilnya. Sekarang rumah ini
biayanya tak mau lagi ayah ratih pedulikan.
Wanita
itu hanya diam, diikuti dengan sebuah cairan bening yang turun membasahi
pipinya. kemudian ekor matanya bergerak ke arah kanan tempat anaknya terlelap. Dalam
matanya yang terpejam, anak itu juga menangis. Tanpa suara. Semua dari awal
sampai akhir dia dengar. Anak itu menangis takut, ia mengerti jika keluarganya
hancur.
****
Sinar
matahari pagi menembus jendela kamar ratih, mengganggu penghuninya yang sedang
nyenyak tertidur.‘ah aku tertidur’ batin ratih sembari berusaha mengumpulkan
semua nyawanya yang sempat terbang. Kemudian ia sadar kalau ia masih memeluk
baju ibunya. Matanya juga sembab, sisa menangis semalam.
Tok
tok tok
‘siapa
pagi pagi bertamu’ batinnya kemudian bangkit dari kamar menuju pintu depan.
Cklekk
“ah
, bu....”
“bereskan
semua barangmu, cepat keluar dari sini!!” ucap ibu paruh baya itu, ia adalah sang
pemilik rumah.
“tapi,
bu. Beri saya satu kesempatan lagi. Saya janji, saya janji besok akan
membayarnya.beri saya satu kesempatan lagi bu.” Ucap ratih memohon.
“tidak
ada tapi tapian. Cepat bereskan barangmu. Nanti sore ada calon penyewa yang
akan melihat rumah ini.” Balas ibu paruh baya itu.
“tapi
saya mau tinggal dimana lagi bu, saya tidak punya sanak saudara”
“mana
saya tahu, bukan urusan saya. Sudah cepat sana beres beres, kalau saya kembali
kesini kamu belum pergi juga, akan saya kenai biaya tambahan. Mau??”. Ucap ibu
itu tanpa belas kasih.mungkin di kebanyakan cerita wattpad banyak orang baik
hati dan menjadi malaikat penolong dalam keadaan ini. Namun di dunia nyata,
orang orang hanya sibuk dengan urusan pribadinya dan acuh untuk sekadar
menolong sesama.
“tidak
bu. Saya akan beres-beres segera.” Balas ratih kalah.
Kemudian
ibu paruh baya itu meninggalkan rumah itu dengan langkah besar, menyisakan
ratih yang enggan pindah dari rumah.Ratih berjalan lesu, ia berat hati untuk
meninggalkan rumah ini. Rumah dengan sejuta kenangan bersama ibunya. Kemudian
langkahnya berhenti tepat di ruang kamar.
****
Sudah
dua minggu yang lalu sejak ibu ratih kembali menjadi pengangguran. Rumah makan
tempatnya bekerja tutup karena sang pemilik pindah tempat ke luar kota. Uang
sangu dari sang pemilik rumah makan pun sudah habis, hinggabeberapa hari ini ia
juga tidak makan.
“ibu,
ratih pulang” ucap ratih sambil membawa gitarnya. Lalu duduk disamping ibunya.
“kok
baru pulang nak? Sampai malam begini.” Ucap ibu ratih sambil mengusappucuk
kepala anaknya.
“Tadi
dilampu merah macet, ratih lanjut mengamen saja. Lumayan hasilnya, bu.” Jawab
ratih sambil tersenyum.
“ini
bu, tadi ratih beli di pasar malam”. Sambung ratih, lalu ia mengeluarkan benda
itu dari tas plastik.
“wah
apa ini?” tanya ibu ratih terkejut.
“ini
buat ibu. Agar ibu hangat,tidak kedinginan”. Ucap ratih lalu memasangkan syal
rajut berwarna putih tulang itu pada sang ibu.
“nah
bagus, bu. Dipakai ya”. Ratih tersenyum.
“iya,
ibu pakai. Terimakasih ya nak” ucap ibu ratih sambil tersenyum manis.
“ratih
sudah makan nak?”. Tanya ibu ratih dengan suara pelan
“iya
bu, sudah. Tadi selesai mengamen ratih langsung makan. Ibu sudah makan kan di
warung?”. Tanya ratih
“iya,
ibu sudah makan. Sudah sana cepat mandi.” Bohong ibu ratih. Ia tak mau anaknya
khawatir pada kondisinya. Ia tak mau anaknya kerja lebih keras dari ini.
Kemudian
ratih menuju kamar mandi. Sedangkan ibu ratih termenung, perutnya terasa sangat
sakit. Ia lapar. Tapi tak ada uang untuk sekadar membeli nasi. Biarlah, ia bisa
menahan ini. Setidaknya putri kesayangannya tidak kelaparan.
“sudah
selesai nak?” tanya ibu ratih mendapati ratih sudah masuk kedalam kamar lagi.
“iya,
bu.”
“boleh
minta ratih bernyanyi untuk ibu?” tanya perempuan paruh baya itu.
“boleh,
bu. Ibu mau ratih nyanyikan lagu apa?” ucap ratih sambil memangku gitarnya.
“terserah
ratih saja. Ibu pasti suka”. Ibu ratih tersenyum lembut.
Jrenggg
Suara
petikan gitar itu mulai terdengar.
Saat ku sendiri, ku lihat foto dan video
Bersamamu yang telah lama ku simpan
Hancur hati ini melihat semua gambar diri
Yang tak bisa, ku ulang kembali
Ku ingin saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu
Segala cara telah kucoba
Agar aku bisa tanpa dirimu
Namun semua, berbeda
Sulitku menghapus kenangan bersamamu
Ku ingin saat ini, engkau ada di disini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukan diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu
Hanya rindu
Ku ingin saat ini, engkau ada di disini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu
Hati ini hanya rindu
Ku rindu senyummu, Ibu...
Jrenggg
Petikan gitar itu
berakhir.
“bagaimana bu?” tanya
ratih.
“suaramu dan petikan
gitarnya bagus sekali, ibu suka”. Jawab ibu ratih sambil tersenyum bangga.
“iya dong, bu.” Jawab
ratih sambil menaruh gitarnya di lantai.
“sini
tidur bareng ibu, kamu pasti capek.” Ucap ibu ratih sambil menepuk bagian kasur
d isebelahnya yang kosong. Lalu ratih
pun menurut dan berbaring disana.“uhhh anak ibu sudah besar.” Ucap ibu ratih
sambil mengusap pucuk kepala anaknya.
“Kamu
harus bisa jaga diri ya, kamu harus mandiri. Jangan mudah percaya sama orang, juga
jangan pelit kepada sesama. Jangan membenci ayahmu, walau begitu beliau itu
ayahmu. Lain kali juga jangan pulang malam, anak perempuan tidak baik pulang
malam. Kalau kamu sudah dewasa, carilah orang yang bisa mengerti keadaanmu.
Orang yang bisa menjagamu selain ibu. Mengerti?” ucap ibu ratih pelan sambil memeluk anaknya yang
ternyata sudah tertidur pulas.
“sudah
tidur rupanya, tidur yang nyenyak sayang. Ibu sayang kamu”. Ibu ratih mencium
kening anaknya.
Lalu
ia pun tertidur. Diikuti setetes peluh bening turun dari matanya. Keesokan
harinya, ratih bangun dari tidurnya. Tapi sayang, ibunya tak bangun lagi dan
menyapanya.
Angkatan 2020


0 Komentar