Rindu itu sebatas kata. Dan rasa sakitnya begitu nyata. Hingga mampu mengeluarkan air mata.
*****
Tidak seharusnya kehadiran
Gilang beberapa hari ini membuat Ayu menjadi sulit tidur
kembali. Perasaan gelisah
dan takut menjadi satu memenuhi gadis itu kala mengingat-ngingat
sosok Gilang. Senyum yang
seolah begitu mudah cowok itu tunjukkan, berbanding terbalik
dengan dirinya yang sulit
sekali untuk membagikan sebuah senyuman.
Merasa risih jelas Ayu
rasakan. Berawal dari kehilangan kalung, hidup tenang Ayu di
sekolah seketika berubah.
Sungguh menyebalkan. Seknario seperti apa yang tengah Tuhan
rencanakan pikirnya terus
berulang-ulang.
Ayu pikir dia bisa bebas dan
mengusir cowok itu lewat perkataan menusuknya dan
sebuah perbuatan yang tentu
saja membuat Gilang jadi enggan untuk mendekatinya lagi.
Namun, Gilang seolah
memiliki semangat yang tak pernah putus untuk mendekat. Hal
yang justru membuat Ayu
ingin sekali menghilangkan cowok itu dari bumi. Andai saja Ayu
memiliki kekuatan super pada
kakinya, pasti sudah sejak hari pertama cowok itu mencoba
mendekat, Ayu bergerak cepat
untuk menendang Gilang dengan kakinya hingga sampai ke
planet pluto.
Jumat pagi sekitar pukul
sembilan, Ayu harus berakhir duduk di dalam ruangan serba
putih dengan seorang Dokter
ahli psikologis di hadapannya. Saat Ayu ingin berangkat ke
sekolah tadi, Rania melihat
jelas bagaimana wajah pucat anaknya itu, mulai dari mata
lelahnya membuat kantong
mata yang hitam, hingga perilaku cenderung diam dari Ayu dua
hari akhir-akhir ini padanya
membuat Rania yakin jika terjadi suatu masalah dengan anaknya.
“Selamat pagi, Ayu.” Sapaan
hangat dari Dokter Dewi dengan sebuah senyuman hanya
diangguki oleh Ayu.
“Bagaimana kabarnya?” tanya
Dokter Dewi dengan senyum yang belum menghilang.
Seakan wanita itu pandai
dalam membuat keramahan.
Ayu menghela napasnya. “Bunda
yang sudah paksa Ayu buat ketemu sama Dokter lagi.”
Dokter Dewi terkekeh kecil.
“Gimana sekolah kamu? Apa ada hal dari sekolah yang
membuat kantung mata kamu
sampai kelihatan jelas begitu?”
Dalam hati, Ayu sedikit
mencibir. Itu adalah sebuah kode dari Dokter Dewi untuk
memancing dirinya agar mau
bercerita. Sebenarnya, Ayu sedang dalam mode malas berbicara
pada siapa pun. Tapi
mengingat Bundanya yang sedang menunggu di luar dengan harapan
dirinya segera sembuh,
membuat Ayu tidak punya pilihan.
“Akhir-akhir ini hidup
tenang saya di sekolah menjadi nggak tenang. Ada seorang cowok
yang tiba-tiba saja mendekat
tanpa ada rasa malu. Itu yang buat saya jadi ngerasa nggak
tenang. Saya jadi terus
kepikiran dengan kejadian...” Ayu menghentikan kalimatnya. Kembali
menghela napas. “Ya, Dokter
pasti tau, kan, kejadian apa yang saya maksud.”
“Jadi, masih belum bisa
berbaur dengan laki-laki? Kalau boleh tahu siapa laki-laki yang
coba mendekat ke kamu itu?
Teman sekelas atau gimana?”
“Namanya Gilang. Dia juga
bukan temen sekelas saya.” Rasanya saja risih saat
menyebut nama cowok itu.
Dokter Dewi hanya
mengangguk-anggukan kepalanya. “Terus, bagaimana awal mulanya
si Gilang itu deketin kamu?”
“Ah, saya malas ngomong
banyak hari ini, Dok.” Di depan Dokter Dewi Ayu bisa
menujukkan sifat manjanya.
Menidurkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangannya
sebagai alas. Dalam hati Ayu
mulai menghitung kala Dokter Dewi bangkit dari kursinya.
Tepat pada hitungan ke
sepuluh Ayu merasakan dingin pada pipinya. Kemudian
membuka mata, sudah ada
Dokter Dewi berdiri di sampingnya dengan sebuah es krim. Ayu
mengulas senyum tipis.
“Silakan duduk kembali,
Dokter. Saya akan menjawab semua pertanyaan.”
Sebenarnya Ayu sudah hafal
cara yang dipakai Dokter Dewi untuk terus membuat Ayu
membuka mulutnya berbicara.
Dengan gerakan santai Ayu membuka bungkus es krim.
“Terus, terus, gimana cerita
si Gilang bisa deketin kamu?” Dokter Dewi berbicara lebih
santai.
“Oh, itu, dia nemuin kalung
saya, terus ngajak saya pulang bareng. Ya, saya langsung
tolak. Belum kenal juga
sudah main-main ajak pulang bareng.”
Ayu menyendokkan es krim ke
dalam mulutnya. “Hari dimana dia ngajak pulang bareng,
Saya dorong dia. Sampai
jatuh. Hebat, kan, Dok?”
Dokter Dewi sedikit
melebarkan matanya. Menggelengkan kepala karena takjub lalu
tangannya bergerak mengambil
tisue. “Apa nggak bisa kamu tolak baik-baik?” katanya
sambil menyodorkan tisue
pada Ayu.
“Kalau saya tolak baik-baik,
nanti makin panjang urusannya. Kan, Dokter tau sendiri,
gimana sensinya saya sama
cowok yang mencoba menedekati saya. “
Dokter Dewi menghela napas.
Menatap Ayu dengan serius. “Gini, ya, Ayu. Sudah
berapa kali Dokter bilang.
Kalau semua cowok yang ada dipikiranmu itu jahat, kamu salah.”
“Iya, saya tau kalau semua
cowok itu nggak jahat. Tapi, saya hanya berusaha melindungi
diri saya sendiri, Dok.”
“Memangnya, Gilang sudah
menyakiti kamu?”
Ayu terdiam cukup lama.
“Belum, sih. Tapi, tetap aja saya nggak suka dan itu sangat
mengganggu.”
“Saya tahu, buat kamu rasa
trauma itu sulit buat dihilangkan. Tapi, Ayu, dengan adanya
seorang lelaki yang ada di
dekat kamu. Itu memungkinkan trauma kamu bisa sembuh.”
Ayu diam tidak membalas.
“Kamu mau sembuh, kan?”
Kemudian gadis itu mengangguk lemah.
“Kamu harus bangkit. Harus
semangat, lawan semua rasa takut kamu itu. Kamu perlu
sesekali menerima orang
untuk dekat sama kamu. Jangan berpikir jauh apalagi negatif dulu
sama Gilang. Mungkin Tuhan
punya rencana dengan mendatangkan Gilang buat kamu?”
“Dok...”
“Percaya sama Dokter.”
Ayu meletakkan es krim cup
nya di atas meja. “Terus gimana, kalau nanti aku tau Gilang
itu sama jahatnya kayak
cowok yang sudah bikin aku trauma?” tanyanya menatap Dokter
Dewi dengan lekat.
“Memangnya kamu sudah tahu
banyak hal tentang Gilang? Nggak, kan? Dokter tahu,
kamu nggak mungkin membuang
waktu cuma buat mencari informasi mengenai Gilang.”
“Dokter mau, kamu lebih
terbuka. Terima aja dulu Gilang. Jadi teman kamu misalnya?
Oke? Masa muda harus bisa
kamu nikmatin Ayu dan itu menyenangkan jika kamu dengan
benar melakukannya.”
Lebih lima detik Ayu terdiam
sebelum mengangguk dengan rasa berat hati tentunya.
Permohonan-permohonan baik
tak lupa Ayu ucapkan dalam hati ketika melangkah keluar
dari klinik Dokter Dewi.
Dari semua keputusan yang Ayu buat, keputusan inilah yang paling
Ayu benci. Harus membuka
sedikit ruang dunianya untuk seseorang yang sangat ingin ia
hilangkan dari bumi.
Membongkar sedikit tentang
Ayu. Gadis itu mengidap Androphobia ringan. Ketakutan
terhadap laki-laki. Dirinya
tidak sampai pingsan ataupun pusing dan mual ketika melihat
seorang pria. Orang yang
mengidap Androphobia biasanya mengalami ketakutan yang
berlebihan dan cenderung
tidak masuk akal. Sekali pun pria yang mencoba mendekat itu
adalah pria normal yang
tidak akan berbuat jahat atau menimbulkan bahaya.
Bahkan pengidapnya gampang
untuk mengeluarkan keringat, jantung berdetak lebih
cepat, bakhkan bisa sesak
pada dada. Ayu mengalami semua ketiga gejala itu jika ada laki-
laki yang mencoba untuk
melakukan kontak fisik dengan dirinya.
Ayu mengidap penyakit itu
karena rasa trauma di masa lalu.
*****
Di tempat lain. Seorang
cowok bersandar di kursi belakang di dalam kelasnya. Menatap
ke arah kedua sahabatnya
yang melakukan suatu kegiatan yang sama sekali tidak menarik
minatnya untuk bergabung.
“Diem, ntong! Tatonya jadi
rusak gara-gara lo banyak gerak.” Komen Erlan saat ia
sedang menggambar sebuat
tato di lengan Vian menggunakan pulpen bertinta hitam hasil
curian.
“Pegel, ah! Deketan dikit
napa kursinya. Tangan gue lo tarik-tarik, Nyet!”
Vian yang selalu
mengorbankan diri untuk kedua sahabatnya itu, selalu mau dan pasrah
jika dijadikan sebagai objek
percobaan untuk melakukan sesuatu. Seperti Erlan, cowok yang
hobi menggambar di mana saja
itu kini mempergunakan lengan Vian sebagai alas
gambarnya.
Saat jam istirahat tadi,
Gilang ke kelas Ayu. Namun yang ia dapati setelahnya berupa
kekosongan penuh arti di
hatinya. Ayu tidak masuk sekolah. Dengan keterangan ijin. Rasa
semangat yang seharusnya
terisi penuh ketika bertemu dan melihat wajah gadis yang
semalaman ia pikirkan
mendadak hilang dan terganti dengan rasa yang Gilang sendiri sulit
untuk mengerti.
“Lang,” seseorang memanggil
dirinya. “Lo kenapa? Dari tadi diem nggak ada suara.
Biasanya udah joget heboh
macem kuda kesurupan di depan kelas kalau nggak ada guru.”
Tanya Erlan.
Sekilas Gilang menggerakkan
kedua matanya. Benar saja, ia baru menyadari kelasnya
tampak biasa ketika tidak
ada guru seperti ini. Suara ramai yang terdengar tidak begitu riuh.
Beberapa teman cowok
kelasnya berkumpul di depan kelas untuk sekedar bermain games
bersama. Sesekali
umpatan-umpatan terdengar dari sana.
Sedangkan teman perempuannya
memilih bergabung dengan kelompoknya masing-
masing sekedar mengobrol
sampai masuk tahap bergosip.
“Efek dari apa yang bikin
seorang Gilang bisa anteng begini?” Olok Vian sambil
melalukan gerakan memutar
pada bahunya karena pegal. Rupanya tato yang Erlan buat telah
selesai.
Gilang tetap diam, tak
menjawab. Sampai suara Erlan kembali terdengar.
“Gue lupa nanyain ini dari
kemarin. Lo ada deketin salah satu betina di sekolah, ya?”
“Wohoo! Lo beneran udah move
on?” Vian justru tertawa. “Mantap-mantap. Efek patah
hati dari Mbak Ara udah
hilang apa belum, Lang? Sampe lo harus cari cewe baru. Bukan buat
dijadiin pelampiasan, kan?”
Vian memastikan.
Sepertinya Gilang tidak bisa
diajak bercanda untuk saat ini. Sebuah buku yang ada di
atas meja ia lemparkan ke
arah Vian, untung saja laki-laki itu gesit menghindar dari serangan.
“Kapan coba gue main-main
sama urusan cewek yang gue taksir?” Akhirnya rasa kesal
yang membuat Gilang membuka
suara.
“Dari awal lo masuk ke
sekolah ini. Lo cuma punya Ara sebagai pacar,” Ujar Erlan.
“Terus diputusin waktu naik
ke kelas dua belas. Maaf, Mbak Ara mau fokus UN aja.
Hahaha...” Vian menambahi
atas apa yang ia ketahui. Dan kedua sahabatnya itu tertawa puas.
Rupanya Vian masih belum
puas menggoda. “Udah, sih, sama adek kelas yang tadi
nyamperin lo di kantin.
Lumayan, kok. Ya, nggak, Er?”
Barusan memang sempat ada
adik kelas yang menghampirinya dengan wajah yang
seakan memakai bedak
sebanyak tiga kilo. Dan, adik kelas itu berakhir beradu mulut dengan
Jasmin.
“Gila aja lo! Gue juga
milih-milih kali. Risih gue kalau ngelihat cewek kayak gituan.
Kesannya kayak nggak ada
malu banget.”
Lalu apa kabar dengannya
yang sudah tahu mendapat penolakan. Tapi tetap saja
mencoba mendekati Ayu. Oh,
mungkin Gilang sedang menjalankan tugas para lelaki. Jika
perempuan itu harusnya
dikejar, bukan mengejar.
“Udah, lah, mikirin cewek
idup lo nggak bakalan maju juga. Yang ada bucin, noh, kayak
lo dulu.” Erlan menunjuk
Gilang. “Kalau ceweknya nggak mau dan ngehindar terus. Ya,
lepasin aja. Tau diri gitu,
lo nggak dimauin.”
Erlan berkata begitu karena
diantara Gilang dan Vian, dia yang sangat malas dalam
urusan cinta dan perempuan.
Mantan ketua ekskul basket itu menganggap wanita sebagai
spesies yang sulit untuk
ditebak-tebak dan dimengerti. Harus selalu benar, dan laki-laki harus
selalu salah. Meski begitu,
Erlan sudah memiliki kriteria sendiri untuk wanitanya.
“Mau ke mana, Lang?” tanya
Vian kala melihat Gilang bangkit dan berjalan
melewatinya.
“Boker. Mau ikut lo?”
“Yeee..., sono, dah. Gue
lagi kagak mencret.”
Erlan menepuk bahu Vian,
lalu bertanya. “Apa itu mencret? Saya tidak tahu.”
“Eek lo muncrat-muncrat!”
“Ludah lo yang ada muncrat
ke wajah gue!” Erlan tak segan menabok mulut Vian.
******
“Kemarin waktu lo nggak
masuk, Gilang, ke kelas. Dia nyariin lo, Yu.”
Ayu baru saja tiba di dalam
kelas, menaruh tas di kursi kemudian mendudukkan diri.
Gadis itu memilih untuk
mengeluarkan buku tebal yang ada di dalam tasnya guna mengusir
rasa kesal saat mendengar
kalimat itu keluar dari mulut Risa.
Risa memilih duduk di kursi
depan Ayu sambil menatap sang lawan bicara yang justru
fokus dengan buku. “Gilang
itu anak yang baik. Gilang nggak sebahaya yang ada dipikiran
lo. Gilang hanya pengin
dekat dengan lo, Yu. Gue juga yakin dia nggak ada niat buat jahat
sama lo.”
Ini masih pagi dan Ayu
sangat tidak ingin membicarakan soal laki-laki itu.
Ayu dengan sadarnya menatap
Risa dengan datar kemudian berkata, “Lo nggak tahu
banyak tentang gue. Dan
sekarang lo berkata seakan-akan lo tahu banyak tentang gue.”
“Sebab itu karena gue temen
lo, gue mencoba tahu tentang diri lo, Ayu. Lo hanya terlalu
berpikiran negatif sama
orang. Ini yang bikin diri lo semakin takut sama sekitar. Tuhan
hadirin lo di dunia ini agar
lo bisa menikmati gimana bahagianya hidup dikelilingi sama
orang-orang yang sayang dan
peduli sama lo.”
Risa menghela napas seraya
menatap Ayu dengan pandangan lurus. “Lo nggak bisa, Yu,
terus-terusan hidup dalam
dunia lo yang sepi. Semua orang butuh yang namanya teman dan
semua orang juga butuh yang
namanya bahagia serta cinta. Dan, nggak semua laki-laki itu
menakutkan seperti apa yang
ada dipikiran lo.”
Ayu diam. Baru kali ini Ayu
mendengar nada serius Risa ketika berbicara padanya
dengan sedikit nada
menyentak yang jelas bisa Ayu rasakan. Sejauh mana Risa mengenal
dirinya?
Keduanya saling menatap
lurus dengan sorot mata yang berbeda. Ayu hanya perlu
waktu. Hanya itu yang Ayu
butuhkan saat ini untuk kembali menerima sekitarnya.
“Lo bisa minta gue buat
pukul atau tendang Gilang kalau laki-laki itu nyakitin lo nanti.
Gue siap ngelakuin itu buat
lo.” Risa menggenggam salah satu tangan Ayu namun dengan
cepat gadis itu
melepaskannya.
Ayu menghela napas. “Sa,
plis. Pagi ini gue mau tenang.”
Risa tersenyum, berdiri dari
kursi, lalu menepuk-nepuk bahu Ayu. “Gue yakin, lo pasti
bisa lawan rasa takut yang
ada dalam diri lo.”
*****
Kedua kakinya melangkah
pasti. Terlalu berlebihan mungkin jika dirinya seperti sudah
benar-benar gila akibat
kerinduannya pada gadis yang sudah berhasil memenuhi pikiran
sekaligus hatinya itu dalam
beberapa hari ini. Perasaan tidak siap akan penolakan dan usiran
seketika menjalar dalam
dirinya saat sudah berhasil masuk ke dalam perpustakaan. Gilang
berusaha mencoba santai.
Hingga jantungnya memilih bergerak cepat saat kedua matanya
menemukan seorang gadis.
Kakinya ia langkahkan dengan
hati-hati. Tadi, Gilang diberitahu Risa jika Ayu sedang
berada di perpustakaan.
Cowok itu seakan kini menganggap Risa sebagai jembatan
penghubung untuk dirinya dan
Ayu. Gilang mencoba menyembunyikan dirinya diantara rak-
rak buku. Dengan hati-hati
ia mengamati gerak-gerik Ayu yang melangkah di depan rak
penuh buku.
Seolah peka dengan sekitar,
Ayu menoleh yang seketika saja membuat Gilang gelagapan
saat menyadari Ayu yang
menoleh ke arah dirinya bersembunyi. Laki-laki itu mengatur deru
napasnya yang tidak karuan.
Sampai sebuah suara mengagetkannya saat ia mencoba untuk
menoleh.
“Ngapain?” tanya Ayu yang
tiba-tiba sudah berada di depan Gilang. Cowok itu
terpelonjak kaget sekaligus
berteriak. Lalu mencoba tersenyum.
“Hah? Oh, ini, gue..., gue
mau cari buku.” Jawab Gilang terbata-bata. Terlihat sekali jika
dirinya sedang gugup saat
ini.
“Bohong.” Ucap Ayu yang
setelahnya memilih untuk pergi dari hadapan Gilang.
Gilang tidak tahu jika Ayu
saat ini tengah menahan rasa takutnya yang sedikit demi
sedikit mulai menyerang
tubuhnya.
“Iya, deh, Maaf. Gue kesini
cuma mau lihat lo. Lo baik-baik aja kan, Ay?”
“Sudah gue bilang. Jangan
panggil gue gitu!” Ketus Ayu yang tidak jadi mengambil
buku di hadapannya. Gadis
itu menatap Gilang kesal.
“Sudah gue bilang. Itu
panggilan kesayangan gue buat lo.”
Ayu memutar bola matanya.
“Terserah.” Ayu melangkahkan kakinya sekitar empat
langkah. Hendak mengambil
buku yang letaknya berada di bagian rak yang lebih tinggi
darinya. Ayu berjinjit namun
tangannya masih tidak bisa menggapai buku itu.
Tanpa ada perintah suruhan,
Gilang maju, mencoba membantu Ayu untuk mengambil
buku itu. Ayu yang menyadari
hal itu segera membalikkan tubuhnya. Napasnya tercekat
begitu saja. Tubuh Ayu
dengan tubuh Gilang sedang berada dalam jarak yang begitu dekat.
Sangat dekat hingga desiran
aneh bercampur ketakutan hadir dalam diri Ayu menjadi satu.
Gilang melangkah mundur,
sedikit menjauhkan badannya dari hadapan Ayu kemudian
menunduk untuk menemukan
tatapan gadis di hadapannya. “Buku ini?” tanyanya sambil
menunjukkan buku yang baru
saja ia ambil. Dan sialnya Ayu gugup lalu berakhir
memberikan anggukan kaku.
Gilang menarik salah satu
sudut bibirnya hingga menciptakan lesung pipinya timbul kala
melihat ekspersi tegang dari
wajah gadis di depannya ini. Itu terlihat menggemaskan di kedua
mata Gilang. Saat Ayu hendak
mengambil buku itu dari tangan Gilang, dengan jahilnya laki-
laki itu mengembalikan buku
tersebut ke tempat semula.
“Ambil aja sendiri.” Kata
Gilang sambil melangkah pergi dari hadapan Ayu.
Ayu menghela napas tak
percaya dan menggeram kesal.
Suara tawa kemudian hadir
dari Gilang, laki-laki itu kembali mendekati Ayu dan
mengambil buku yang
diinginkan Ayu lagi.
“Bercanda kali. Jangan
marah, entar cantik lo makin nambah. Repot, kan, gue.”
Ayu berdecak kesal, kemudian
memilih untuk menyibukkan diri dengan bukunya tanpa
berpindah tempat. Sedangkan
Gilang ikut berdiri di depan rak buku persis di hadapan Ayu.
Gilang menatap paras cantik
itu dengan lekat.
“Tumben cuek banget sama
gue?” Gilang memancing obrolan seraya menyilangkan
tangan di depan dada.
Pandangannya jelas tertuju kepada Ayu.
“Gue emang selalu cuek kali
sama lo.” Jawab Ayu tanpa mengangkat pandangan.
Kemudian pertanyaan aneh
dari mulut Gilang terdengar.
“Kalau gue sakit cacingan,
lo masih mau suka gue nggak?”
Ayu menatap Gilang dengan
heran. “Siapa juga yang mau suka sama lo.” Merasa tidak
betah, Ayu berpindah ke
tempat duduk di tengah-tengah perpustakaan yang sedang sepi ini.
Lagi, Gilang terus
membuntuti kemana Ayu pergi.
“Gue itu cowok baik, Ay. Lo
boleh bunuh gue kalau gue jahat sama lo. Bahkan gue akan
sediain pisaunya buat lo.
Gue cuma pengin deket sama lo. Dan nggak ada niat buruk buat
nyakitin lo sama sekali.”
Ada seringai kecil tercipta
di sudut bibir Ayu. “Omongan lo itu bisa aja bikin gue pusing
sama mual. Mending lo pergi.
Kehadiran lo itu ganggu banget.”
“Mau gue bantu nggak?” tanya
Gilang yang mendapat tatapan bingung dari Ayu.
“Bantu biar lo jatuh cinta
sama gue.” Lanjut Gilang dengan percaya diri yang tinggi.
Ayu terdiam untuk beberapa
saat. Kemudian memperlihatkan kekehan kecilnya. Seolah
perkataan Gilang barusan
cukup lucu di kedua telinganya. Ayu memindahkan posisi
duduknya agar menjauh dari
Gilang.
“Nggak. Gue masih nggak
butuh cinta dari cowok dalam hidup gue.”
Helaan napas berat menjadi
bukti jika Gilang merasa kecewa dengan jawaban Ayu.
“Kenapa jawabannya gitu,
sih, Ay. Lo juga pasti butuh seorang pria buat dampingin hidup lo
kelak.”
“Gue nggak mau nikah.” Ayu
menjawab ngasal.
Sontak saja telinga Gilang
serasa bergerak naik ke atas. Beruntung kali ini Gilang tidak
memiliki pikiran untuk
menyumpal mulut Ayu dengan kaus kaki miliknya.
“Jangan aneh-aneh deh, Ay.
Manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan dan
melakukan perkembangbiakan.”
Gilang menjadi greget sendiri.
“Terus mau lo sekarang apa?”
Ayu sudah lelah menanggapi ucapan-ucapan Gilang
“Gue minta tangan lo boleh?”
“Tentu aja nggak boleh!”
jawab Ayu cepat seraya melotot ke Gilang. Seolah tidak peduli
dengan kemarahan Ayu nanti,
Gilang tersenyum dan meraih tangan kanan Ayu. Kemudian
menggenggam jemari yang
terasa halus itu dengan erat.
Tubuh Ayu seperti mati rasa.
Ia sulit untuk bernapas. Kedua matanya menatap Gilang
tanpa berkedip. Ditambah
jantungnya juga ikut berdetak cepat.
“Gil,” Ayu berusaha
mengeluarkan suara yang rasanya tenggorakannya sunguh tercekat
saat ini.
Gilang mencondongkan
tubuhnya maju. Wajahnya ia dekatkan pada telinga Ayu
kemudian berbisik, “Gue
bakal ngelindungin lo.”
Setelahnya, tanpa diduga,
Gilang menarik Ayu keluar perpustakaan. Menarik gadis itu
dengan langkah berlari
kecil. Seharusnya Ayu langsung melepaskan genggaman Gilang
ditangannya saat melewati
banyak pasang mata di koridor barusan, namun entah itu terasa
sangat sulit untuk dilakukan.
Ayu bahkan tidak percaya ini hingga dirinya menginjak anak
tangga terkhir yang kemudian
membawa dirinya untuk berdiri di rooftop sekolah.
Ayu menatap liar, tempat ini
sangat asing baginya. Ini kali pertama Ayu menginjakkan
kakinya di rooftop sekolah.
Gadis itu tidak bisa untuk
tidak menarik senyum manis pada kedua bibirnya. Ayu
melepaskan genggaman tangan
Gilang. Gadis itu berjalan ke tengah rooftop. Cuaca tidak
terlalu panas siang ini.
Langit juga masih tampak biru dan cerah di atas sana.
Ayu menghela napas leganya
sambil merentangkan kedua tangannya ke samping dan
kedua matanya menatap
sejenak ke atas langit.
Gilang ikut berdiri di
sampingnya. “Gimana? Suka?”
Ayu tak ragu untuk
menganggukkan kepalanya atas pertanyaan dari Gilang. “Gue suka.
Dengan suguhan pemandangan
langit yang mampu bikin hati gue tenang dengan
keindahannya.” Kemudian Ayu
mengeluarkan ponselnya untuk memotret langit.
Gilang juga melakukan hal
yang sama, laki-laki itu mengeluarkan ponselnya namun
bukan untuk memotret langit,
sedangkan memotret gadis yang yang kini berada di
sampingnya. Gilang tersenyum
kala mendapatkan foto Ayu dari samping saat gadis itu
tengah memamerkan senyumnya.
Ayu menoleh yang membuat
Gilang cepat-cepat menurunkan dan menyimpan ponselnya
kembali.
“Kenapa suka langit?” lanjut
Gilang bertanya. Namun, Ayu justru melangkahkan
kakinya ke depan tembok
pagar pembatas yang tingginya sampai dada. Gilang lagi-lagi
mengikutinya.
Tanpa diduga Ayu menjawab.
“Gue suka langit karena keindahannya yang bikin hati
tenang. Langit bagaikan
candu ketika gue lagi ngerasa kacau. Dengan menatap langit, seolah
ada yang mengerti tentang
kondisi gue yang saat ini berbeda. Gue hanya ingin menjadi diri
gue apa adanya.”
Sejenak Gilang diam.
Kemudian membalas ucapan Ayu. “Lo tau nggak, Ay. Langit
barusan bisik-bisik sama
gue.”
Ayu tersenyum geli menatap
Gilang. “Emang langit barusan bisikin lo apa?”
“Katanya, langit titip
seseorang di dunia ini. Seseorang yang diam-diam mengagumi
keindahannya. Langit suruh
gue buat bikin lo selalu tersenyum setiap hari.”
Ayu menghadapkan wajahnya ke
depan. “Bohong. Langit nggak bisa bicara.”
Di saat Gilang sudah akan
ingin membalas, gadis itu mengajukan pertanyaan. “Kenapa lo
nggak marah?”
“Marah kenapa?” tanya Gilang
yang merasa bingung.
Ayu terpaksa menoleh lagi ke
arah cowok itu. “Kenapa lo nggak marah setelah gue
bertindak kasar sama lo? Lo
harusnya marah. Lo harusnya pergi menjauh dari cewek kayak
gue.”
Gilang menatap lurus ke
dapan. Matanya terfokus pada gedung-gedung tinggi di
hadapannya. Angin yang
berhembus menerpa wajah dan rambutnya.
“Gue juga nggak tau kenapa.
Malah gue ingin selalu lihat lo setelah itu. Ingin
ngelindungin lo dan... bikin
lo tersenyum karena gue.” Gilang menoleh ke Ayu, namun gadis
itu menundukkan kepalanya.
“Gue orangnya sulit.” Ujar
Ayu pelan.
“Sulitan mana sama soal
matematika?” goda Gilang agar Ayu tidak terlalu serius.
“Gue sulit buat terima orang
baru untuk masuk ke dalam hidup gue.”
Gilang saling bertatap
dengan Ayu. “Sesulit apapun itu, gue bakal berusah coba buat
masuk ke dalam hidup lo.”
“Jangan. Hidup gue nggak
berwarna. Hidup gue dipenuhi dengan gelap dan sunyi. Lo
bukan tipe orang yang suka
dengan dua hal itu, kan?”
“Kata siapa? Sebelum gue
ngerasa hidup gue berwarna. Gue belajar buat menikmati
yang namanya sunyi. Karena
sunyi nggak selamanya membosankan. Sunyi mengajarkan
kalau kita harus belajar
untuk mencintai diri kita sendiri. Setelah itu, kita bebas buat
mencintai orang lain.”
Ucapan Gilang tidak berhenti
sampai disitu,
“Dan gelap yang lo gambarin
dengan hitam. Sebenarnya mampu menjadi sesuatu yang
sangat mudah untuk dilihat.
Walaupun sebagian orang membenci bahkan takut akan
kehadirannya.”
Ayu diam. Ia terlanjur
menikmati kata demi kata yang Gilang ucapkan kepadanya. Ayu
merasakan, jika di dalam
dirinya ada sesuatu yang ingin ia miliki sekarang, yakni sebuah
keberanian.
“Karena hitam yang ada dalam
dunia gue nggak bisa diusir dengan kegelapan. Gue butuh
cahaya buat mengubah
kegelapan menjadi terang, kan? Gue selalu anggap dunia itu sebagai
musuh. Nggak tau kenapa,
mungkin karena dunia nggak pernah lagi kasih gue sebuah
kebahagiaan yang gue
inginkan.” Ujar Ayu yang tanpa sadar terlihat lebih terbuka.
Dengan masih memandangi
wajah Ayu, Gilang menjawab. “Gue mau jadi orang yang
datang ke dunia lo sambil
bawa cahaya.” Dan perkataan selanjutnya terdengar lebih serius.
“Gue juga siap buat bawa
sebuah kebahagiaan besar buat lo.”
Ayu tak terlalu mempedulikan
kata-kata Gilang, ia tersenyum kecil. “Ternyata gue salah.
Lo bukan orang jahat yang
ada dipikiran gue.”
Sebagian diri Ayu tidak
ingin mengakui bahwa kini dirinya sudah tenggelam dengan
kata-kata Gilang yang mampu
menghancurkan sebagian dinding kokoh yang sudah ia bangun
tinggi-tinggi agar siapa
saja tidak bisa masuk dengan mudah ke dalam dunianya.
Gilang tersenyum senang. Ini
sesuatu yang bagus. Ayu sedikit demi sedikit mulai
menaruh kepercayaan kepada
dirinya. Gilang juga merasa bangga sebab dirinya mampu
menunjukkan sesuatu yang
indah dan tak disangka Ayu sangat menyukai itu. Langit cerah
yang biru.
Bagaikan sebuah lilin kecil.
Gilang seolah mengendap masuk ke dalam dunia Ayu untuk
mengusir kegelapan.
“Jadi, apa lo bisa kasih gue
izin buat masuk ke dalam dunia lo?”
Lewat suara itu, Ayu hanya
bisa memandang Gilang dalam jarak dekat yang tercipta
hingga rasanya jantungnya
ingin pecah.

0 Komentar