Gilang turun dari kamarnya. Ia baru saja selesai mandi.
Dengan rambut yang setengah
kering, Gilang beranjak menuju dapur. Perutnya terasa
lapar.
“Mau ada apa, Bi?” tanya Gilang saat menemukan banyak
makanan di atas meja makan
kemudian mencomot sosis dengan santai.
“Mau ada arisan, Mas.”
“Ah, saya kira Mamak lagi mempersiapkan acara perjodohan
buat saya.” Bi Atri
terkekeh kecil kemudian mengambilkan nasi dan lauk untuk
Gilang dari catering milik
keluarganya. Kedua orang tua Gilang memiliki bisnis yang
bergerak di dunia kuliner.
Sania – Ibu Gilang – yang baru saja keluar dari kamar
setelah bersiap-siap melangkah
menuju dapur.
“Bi maka—“ ucapannya terhenti. “Kamu mandi malam lagi?”
tanya Sania pada Gilang
saat melihat rambut cowok itu yang sedikit basah.
“Iya. Tadi habis pulang sekolah ketiduran.” Jawab Gilang
santai sambil menyendokkan
makanan ke dalam mulutnya.
Sania mendengus tidak suka dengan itu, kemudian
tatapannya beralih pada Bi Atri. “Bi,
makanan cateringnya taruh di taman, ya, setelah ini.”
“Iya, Bu.”
“Terus saya minta tolong. Kasih tau pak Tris buat atur
lampu di taman.”
“Baik, Bu.”
Sania mencoba memeriksa kembali makanan yang akan
disuguhkan di acara arisan
sebentar lagi sampai anak laki-laki bungsunya membuka
mulut.
“Ma, adek lagi suka sama orang.”
“Cewek, kan?”
“Iyalah, Ma. Masa tuyul!” balas Gilang yang terdengar
jengkel.
“Siapa, sih? Cantik, ya, pasti? Itu Ruru anak samping
rumah, anaknya putih, cantik.
Kenapa nggak suka sama dia aja kamu.”
“Mama ngajak berantem, nih. Ruru masih anak SD kelas 4,
Ma!”
Sania tertawa kecil. Ia merasa puas membuat anaknya
menjadi kesal.
“Iya, deh, iya. Emang siapa nama cewek yang disukai sama
kamu?”
“Ayu.”
“Ayu? Hmm, pasti anaknya cantik. Kalau dalam bahasa Jawa,
arti nama Ayu itu cantik.”
Gilang mengangguk tanpa ragu dengan mulut penuh nasi ia
berkata, “Cantik banget.
Tapi sayang, dia anaknya beda, Ma.”
“Beda gimana?” Sania menjadi penasaran dan menuangkan air
ke dalam gelas lalu
menaruhnya di dekat piring sang anak.
“Galak anaknya.”
Tidak mungkin Gilang akan bercerita jika Ayu sudah
mendorongnya sampai terjatuh.
Bisa-bisa Mamanya itu berpikir jauh mengenai Ayu. Tebak
saja Mamanya akan menganggap
Ayu adalah wanita yang kasar. Kenyataanya memang bisa
dikatakan demikian.
*****
Saat jam istirahat tiba, dimana merupakan hal bebas yang
selalu dinantikan oleh setiap
murid membuat kantin selalu terisi penuh. Gilang pergi ke
kantin bersama Vian, teman
akrabnya di kelas dari kelas sepuluh. Biasanya juga ada
Erlan yang ikut ke kantin bersama
Gilang dan Vian. Namun kini Erlan tengah sibuk membantu
adik kelasnya mengenai
perlombaan bola basket yang diadakan setiap bulan
januari. Tahun kemarin Erlan memang
sempat menjabat sebagai ketua ekskul basket di
sekolahnya.
Sesampainya di dalam kantin langkah mereka berdua
berpisah. Vian yang menuju
warung bernama Mamik untuk membeli bakso, sementara
Gilang menghampiri warung
Mbak Dewi yang menjual berbagai macam kue. Gilang memilih
untuk membeli brownies
cokelat seharga tiga ribu yang selalu laris terjual di
sana. Laki-laki itu juga membeli sebotol
air mineral berukuran sedang.
Gilang berbalik, ternyata Vian sudah duduk dengan bakso
di hadapannya dan ada
seorang gadis di sebelah Vian.
“Mimin, gimana penampilan abang Gilang sekarang. Sudah
ngelebihin Zayn Malik
belum gantengnya?” tanya Gilang pada Jasmin dengan nada
sok imut. Vian hanya
mengernyit jijik seraya memberikan kecap pada baksonya.
Hanya kecap, tidak ada saos
maupun sambal.
“Beb,” panggil Jasmin pada Vian dengan kernyitan jijik
tentunya. “Gue dipanggil Mimin
lagi sama si dajjal satu ini!”
“Santai aja, ketimbang dia panggil kamu ‘sayang’. Kan,
kamu sudah milik aku, Jaenab.”
Jasmin semakin kesal. Semenjak Jasmin berpacaran dengan
Vian, Gilang selalu
memanggilnya Mimin, sedangkan Vian memanggilnya Jaenab.
“Ngapain sih ngajak gue ngomong. Gue lagi nggak mau
ngomong sama lo!” Seru Jasmin
pada Gilang.
“Ya, santai dong, can.”
“Can?” bingung Yasmin.
“Iya, can. Macan.” Gilang memperjelas dengan wajah
usilnya.
“Mulut lo mau gue pelintir kayak rambut nenek-nenek
sebelah rumah gue?!”
“Lo mau ngerusak wajah sempurna gue?!” Gilang berucap
seakan tengah berakting
marah. “Ah, udah ah. Ngeladenin adek kelas kayak lo bikin
buang-buang waktu gue aja,
Min.”
“Ihh! Nih, anak emang minta dilempar pake sepatu, ya.
Padahal lo dulu yang ngajak gue
ngomong! Udah sono lo pergi jauh-jauh. Ke kutub utara
sekalian jangan balik.”
“Yan, gue tinggal duluan nggak apa-apa, kan?” tanyanya
pada Vian yang sudah mulai
menikmati bakso di hadapannya.
“Silakan. Tapi, emang lo beneran mau pergi ke kutub
utara?” tanya Vian seperti orang
bodoh seraya mengunyah bakso yang ada di dalam mulutnya.
Sementara Jasmin beralih untuk ikut memakan bakso Vian
dengan garpu yang sempat ia
rebut dengan santainya dari tangan kiri pacarnya itu.
Hari ini Jasmin ingin irit uang saku agar
bisa menabung untuk membeli skincare yang diinginkannya.
“Gue ke kutub utaranya nggak sekarang. Masih ada orang
yang harus gue perjuangin
dulu.”
Vian mengernyit curiga. “Emm, gitu. Yaudah, gue mau makan
bakso. Semoga berhasil.”
“Iya, bantu doa, ya. Semoga gue bisa menaklukkan hati
Mbak Ayu.”
“Ayu? Siapa?”
Jangan heran jika seorang Vian yang cukup populer di
sekolahnya ini tidak mengetahui
perempuan satu angkatannya yang bernama Ayu. Terlihat
jelas betapa Ayu menutup dirinya
di lingkungan sekolah yang membuat orang-orang di
sekolahnya tidak tahu dengan dirinya.
“Ah, entar lo juga tau. Udah, gue duluan ya.” Vian hanya
mengangguk sambil menatap
kepergian Gilang. Kemudian Vian menoleh menatap Jasmin
yang sudah menusuk pentol
besar miliknya yang berisi telur.
“Mau gue beliin minum?” tawar Vian, kebetulan laki-laki
itu tadi tidak sempat untuk
memesan minum sebab antrean tempat memesan minum sedang
penuh.
“Boleh, sekalian sama cimol, ya, Beb.”
“Oke. Tapi, ntar malem lo mau gue ajak ke hotel, ya?”
Seketika Jasmin menatap Vian dengan ganas. “Bakso lo mau
gue muntahin?”
Melihat kedua mata pacarnya yang melotot, Vian justru
terkekeh. Jasmin sama sekali
tidak terlihat garang ketika marah, justru terlihat
sangat menggemaskan di mata Vian. Jasmin
mengaduh kesakitan saat Vian menyentil keningnya.
“Becanda, Sayang.”
Akibat ucapan lembut itu, Jasmin menjadi melunak. Desiran
aneh merayap di dalam
dadanya ketika kali Vian memanggilnya ‘Sayang’. Jika Vian
dan Jasmin tidak berada di
tengah-tengah kantin. Cowok itu pasti sudah mengecup pipi
Jasmin yang kini telah merona.
“Eh, btw kamu nggak penasaran?” Tanya Jasmin yang menahan
Vian saat sudah akan
berdiri dari kursi untuk membeli minum.
“Penasaran apa?” Tanya Vian.
“Itu tadi dajjal ngomong mau perjuangin seseorang dulu.
Becanda nggak, sih? Emang
sudah berhasil melupakan—“
“Nggak tau. Entar anaknya juga bakal cerita sendiri.”
“Apa dajjal sedang mencari seseorang untuk dia jadiin
pelampiasan?”
Vian tersenyum tipis sembari mengelus puncak kepala
pacarnya, “Gilang bukan tipe
orang yang bakal ngelakuin hal kayak gitu.”
*****
Tidak butuh waktu lama, Gilang sudah berada di depan
kelas Ayu. Laki-laki itu
merapikan tatanan rambutnya juga seragam sekolahnya.
Gilang menoleh ke kiri, ada dua
orang perempuan yang sedang mengobrol dengan memegang
buku tebal di tangan masing-
masing. Gilang mendekat ke hadapan mereka. Ingin
menanyakan sesuatu yang sangat tidak
penting sebenarnya.
“Gue udah ganteng belum?” tanya Gilang tak tahu malu. Dua
gadis itu yang kaget
dengan kehadiran Gilang hanya memberi respons anggukan
canggung dan kemudian
pandangan kedua gadis itu cepat-cepat kembali kepada buku
yang dipegangnya.
Gilang melangkah masuk ke dalam kelas Ayu dengan santai.
Kelas yang menjadi tempat
berkumpulnya para peringkat paralel sekolah. Cowok itu
tidak mempedulikan tatapan-tatapan
aneh dari seluruh pasang mata di sana. Gilang menatap
liar, mencari sosok Ayu berada.
Sampai akhirnya, Risa maju mendekatinya.
“Lo ngapain masuk kelas gue? Cari Ayu, ya?” Tanya Risa
tepat sasaran. Gilang
mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya.
“Ayu lagi ada di Uks.”
Gilang sontak membulatkan matanya dramatis. “Dia sakit?!”
Risa menggeleng. “Setiap hari Rabu, Ayu emang selalu jaga
Uks. Itu pun cuma di jam
istirahat.”
Gilang bernapas lega mendengar itu. “Yaudah, Sa. Gue mau
ke Uks.”
“Nyamperin, Ayu?” Gilang mengangguk dan Risa menghela
napas berat.
“Mending jangan, deh. Yang ada lo bisa di pukul pake
kursi roda lagi sama Ayu entar.”
Risa tidak tahu pasti apa yang akan terjadi jika Gilang
nekat mendatangi Ayu.
“Nggak bakalan, lah.” Gilang terkikik sambil mengibaskan
tangan. “Yaudah, Sa. Gue
mau samperin si Ayu.”
Tanpa mempedulikan teriakan Risa, Gilang terus berjalan
ke mana ia harus melangkah
kini.
*****
Sekarang Gilang sudah sampai di depan pintu Uks yang tertutup
rapat. Laki-laki itu
mengambil napas. Lalu mengeluarkan seluruh jiwa seninya
untuk berakting. Gilang sudah
pasti yakin, Ayu akan mengusirnya jika ia datang ke Uks
dengan keadaan yang terlihat sehat
walafiat. Perlahan Gilang menyentuh gagang pintu Uks lalu
membukanya.
“Aduhh!!” Teriak Gilang dramatis seperti orang yang
sedang mengaduh kesakitan. Ayu
yang sedang duduk mencatat nama-nama obat yang mau habis
sontak menoleh kaget ke arah
pintu.
“Aduhh! Perut gue mules banget. Aduhhh!” Gilang semakin
bersemangat untuk
berakting.
“Lo! Ngapain?!” Ayu membulatkan kedua matanya. Perasaan
gelisah disertai takut
membuat gadis itu mencengkram salah satu bagian dari
kursi roda yang barada tepat di
sampingnya.
Apa perlakuan Ayu kemarin masih belum bisa menyingkirkan
pria ini?
Tanpa mengetahui perasaan tidak nyaman dalam diri Ayu,
Gilang semakin gencar
berakting. Kini aktingnya seperti orang yang susah
bernapas, tapi cowok itu justru
memegangi perutnya. “Perut gue... perut gue rasanya kaya
dililit dari dalem.” Lalu tangannya
berganti memegang dada atas kirinya. “Jantung gue...
rasanya seperti disetrum. Tolongin
gue,” Gilang lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur
yang menimbulkan suara cukup keras
antara pertemuan badannya dan kasur.
“Ay, tolongin gue dong.” Ucap Gilang yang merengek
seperti anak kecil.
Ayu mendekat ke Gilang. Tidak terlalu dekat, mungkin
masih ada jarak dua meter
dengan Gilang. Dari tempat semuala gadis itu berdiri,
dirinya hanya maju sebanyak dua
langkah untuk melihat keadaan Gilang. Kedua mata Ayu
menatap tajam ke arah cowok itu.
“Perut lo sakit?” tanya Ayu yang tak yakin.
Gilang mengangguk lemas. “Hati gue juga sakit.”
“Lo belum makan?” Tanya Ayu dan Gilang mengangguk lagi.
Dari jawaban itu Ayu
sudah bisa menebak perut Gilang karena apa. Ayu melangkah
ke lemari tempat penyimpanan
obat. Tangannya mengambil obat.
Sebelum memberikan obat pada Gilang, Ayu bertanya. “Lo
ada mual nggak tadi?”
“Kenapa harus ada mual? Gue nggak hamil.”
Kesal karena jawaban Gilang, Ayu memilih untuk segera
memberikan obat pada cowok
itu. Ayu maju hingga kini tubuhnya berdiri tepat di
samping Gilang membaringkan tubuhnya.
“Nih, minum. Tinggal di makan aja kayak permen. Rasanya
nggak pahit.” Gilang
bangun, menerima obat pemberian dari Ayu. Susah payah
Gilang mengunyah obat itu yang
sebenarnya tidak terlalu pahit, justru ia sedikit
merasakan sensasi rasa mint dalam obat yang
ia kunyah.
“Ay, gue sakit apa?” tanya Gilang yang sudah ingin
mengobrol banyak dengan Ayu.
“Jangan panggil gue gitu! Geli tau, nggak!” Gilang malah
tertawa atas bentakan yang
dilontarkan Ayu.
“Nggak mau. Gue mau panggil lo kayak gitu aja. Itu
panggilan sayang dari gue.”
Ayu mengepalkan kedua tangannya. Kesal dengan manusia
yang kini berada satu
ruangan dengannya.
“Lo bisa keluar dari sini!” Kata Ayu kasar. Gilang tidak
mempedulikan itu. Dia malah
menyodorkan air minum dan brownies yang tadi ia sempat
beli di kantin.
“Kok malah ngusir pasien, sih. Nih, buat lo. Gue takut lo
belum makan.”
“Yang butuh makan itu lo, bukan gue.” Ayu lantas melengos
dan pergi menjauhi cowok
itu.
Gilang turun dari atas kasur. Menghampiri Ayu yang berada
di dekat lemari
penyimpanan obat.
“Udah, Ay, terima aja. Gue ikhlas ngasih ke lo. Beneran
ini, ikhlas banget gue. Belinya
juga pake uang halal.”
Dengan helaan napas kasar, Ayu menerima pemberian Gilang,
membuat senyum di
wajah Gilang langsung tercetak. Namun tanpa Gilang duga,
Ayu malah pergi ke arah tempat
sampah yang ada di dalam Uks. Tanpa ada rasa kasihan
terhadap makanan yang kini ada di
tangannya, Ayu membuangnya dan disaksikan sendiri oleh
Gilang.
Gilang menganga tak percaya. Ayu memang bisa membuat
dirinya takjub.
“Lo bisa keluar.” Kata Ayu datar sambil menatap. Gadis
itu berjalan ke arah pintu lalu
membukanya, tanda Gilang untuk segera keluar.
Gilang menelan ludahnya. Situasinya mulai menegang tapi
cowok itu masih ingin
berlama-lama dengan Ayu di sini.
“Aduhh!! Hati gue tambah sakit. Aduhh!!” Ayu menghela
napas lelah ketika Gilang
kembali beraksi. Ayu menutup pintu Uks.
“Gue tau lo pura-pura, kan?” Tanya Ayu yang sudah hampir
hilang batas kesabarannya.
Gilang menampakkan raut wajah sedih ke Ayu. Berharap
wanita itu merasa kasihan pada
dirinya.
“Hati gue beneran sakit. Hati gue sekarang sakit banget.
Gue sakit apa ya, Ay, kira-
kira?”
“Sakit jiwa.”
“Sepertinya begitu. Gue udah gila gara-gara lo.”
Ayu menatap Gilang jengah. Dirinya sudah benar-benar
terganggu. Ayu tidak suka jika
dunianya yang tenang diganggu oleh makhluk seperti
Gilang. Sangat merepotkan dirinya.
“Lo lupa bawa otak?” tanya Ayu dengan sarkasme. “Lo
ngapain sih. Tiba-tiba datang
ganggu gue?!” Dari tempatnya Gilang bisa melihat tatapan
penuh tidak suka dari kedua mata
Ayu.
Ayu kembali berjalan ke arah tempat obat-obatan berada
dan Gilang membalas perkataan
gadis itu dengan tenang walau kebohongannya sudah
terbongkar.
“Siapa yang mau ganggu. Justru gue pengin kenal deket
sama lo,”
“Dengan cara kampungan kayak gini?” Ayu menunjuk Gilang
dengan jari telunjuknya.
Tatapannya tetap menajam.
“Gimana lagi. Ini satu-satunya cara yang ada di otak gue
buat bisa deket sama lo hari
ini.”
“Tapi gue nggak mau di deketin sama lo!”
Sepertinya tak ada kata menyerah dalam kamus Gilang.
Cowok itu terus saja
melontarkan kalimat.
“Sudah pernah pacaran belum?” Tanya Gilang.
“Pergi.” Balas Ayu penuh penekanan dalam berucap.
“Pacaran sama gue, mau?”
“Lo!” tidak tahu sudah sampai mana batas kemarahan Ayu
sekarang. Mungkin benar-
benar hilang saat ini dan keinginan untuk melempar kursi
roda ke arah Gilang sangat ingin
Ayu lakukan sekarang.
“Kenapa? mau?” Gilang masih berusaha santai, walau ia
sendiri tahu bagaimana raut
wajah kemarahan Ayu sudah sangat tampak jelas di
wajahnya.
“Pergi nggak?!” Ayu mendelik ganas. Dan, Gilang masih
tampak santai. Laki-laki itu
mendudukkan tubuhnya senyaman mungkin di atas kasur Uks
sambil menatap lurus ke arah
Ayu.
“Biasanya di rumah lo dipanggil siapa?” Tanya Gilang.
“Kenapa lo seolah pengin tau banyak tentang gue?”
“Lo gimana, sih. Kan nanti gue bakal serumah sama lo.”
Gilang terkekeh kecil saat
menangkap ekspresi wajah Ayu.
“Mulut lo terlalu manis di awal!”
“Mau gue gombalin, nggak? Siapa tau lo klepek-klepek sama
gue.”
“Dasar Gila!”
Setelah itu Ayu tak membalas ucapan Gilang. Gadis itu
membiarkan Gilang berbicara
sesuka hatinya. Mulai dari yang katanya laki-laki itu
memiliki peliharaan hewan yaitu semut,
kalau bersin matanya jadi ketutup, sampai ia mengungkap
berapa kali Gilang mencukur bulu
ketiaknya selama satu minggu. Lalu bel yang berbunyi
nyaring menjadi hadiah untuk Ayu
untuk terbebas dari manusia aneh di dekatnya ini
terkabul.
“Yah, kok, udah bel aja, sih. Mau gue antar ke kelas
nggak?” tanya Gilang pada Ayu
yang siap untuk meninggalkan ruang Uks.
“Jauh-jauh lo dari gue!”
Gilang turun dari atas kasur. “Gue maunya pengin deket-deket,”
“Dasar aneh.”
“Lo hobi banget, ya, ngatain gue?”
“Lo emang pantes dikatain.”
“Waw. Sadis.”
Disaat Ayu ingin membuka pintu Uks, Gilang turun dari
atas kasur kemudian bergerak
cepat untuk menahan lengan Ayu.
“Besok mau gue mau bawain cokelat atau bunga? Atau gue
bawain emas kawin sekalian
bareng Pak penghulu?”
Bersama degup jantungnya yang sudah berdetak tak karuan.
Ayu ingin sekali berteriak
saat ini juga.
“Lepas. Dan jangan ngikutin gue.” Kata Ayu penuh
penakanan sembari menyentak
tangan Gilang dengan kasar. Tatapan tajamnya pun tak
luput ia tujukan pada cowok gila itu.
“Ayu!” Gilang berusaha mengejar langkah cepat gadis itu.
Lalu sebuah teriakan terdengar cukup nyaring. “Bawa
pulang hati gue aja gimana?”
**********
Catatan Penulis
Terima kasih sudah membaca sampai chapter ini. Aku harap
kalian bisa mengikuti
cerita ini hingga ending. Aku tidak bisa janji ending
yang memuaskan, tapi aku sudah
membuat tulisan ini puas untuk diriku sendiri dan semoga
kalian bisa merasakannya
juga setelah membaca.
Jangan lupa always support yourself every day.
Salam,
Novita Ria

0 Komentar