Seperti senja yang selalu
pergi meninggalkan. Aku selalu terikat dengan kehilangan. Hingga
menggapaimu saja itu sebuah
bentuk merelakan.
***
“Lebih pilih es krim atau
aku?” Pertanyaan dengan nada manis itu membuat ia mendongak
menatap wajah kekasihnya
sejenak. Lalu menolehkan pandangan pada kepala yang dagunya
bersandar di bahunya seraya
memainkan jemari yang selalu memberikan kehangatan lewat
genggaman.
“Yakin masih nanya?”
Balasnya dengan suara geli. Dengan posisi kepala yang bersandar di
depan dada, membuatnya
mendapat kecupan singkat penuh kasih di puncak kepalanya dengan
mudah.
“Jadi?” Laki-laki yang
sangat disayanginya itu meminta jawaban.
“Kamu.” Jawabnya sambil
mengetukkan jari telunjuknya di hidung laki-laki yang selalu bisa
menyita seuluruh
perhatiannya.
Gadis cantik itu sedikit
menjauhkan kepalanya dari dada sang kekasih. Dengan wajah merona
seusai menjawab, mereka
berdua saling tatap. Lalu tangan laki-lakinya itu berulah nakal.
“Jangan dicubitin terus.”
Pintanya dengan wajah menggemaskan seraya memegangi pipi.
“Lucu,” jawab laki-laki itu.
Lalu memberikan kecupan singkat di pipi gadisnya.
“Lucu gini, kan, punyanya
kamu.” Balas gadis itu dengan kekehan dan terdengar malu-malu.
Saat gadisnya sudah ingin
berdiri dari hadapan tubuhnya, pria itu menarik bahu gadisnya hingga
gadis itu kembali duduk di
depannya. Kemudian dengan sikap jailnya yang tidak pernah
berubah, kedua kaki dan
tangannya bergerak dalam upaya mengurung dalam kedekatan yang
sempurna hingga dadanya
melekat dengan punggung gadisnya.
“Aduuuhhh… Kenapa aku
dikurung gini?” pekik gadisnya yang berhasil mengeluarkan tawa
senyum bagi pria itu.
Gadis itu mendongakkan wajah
hingga hidung dan sisi wajah mereka bersentuhan dan senyum
saling terukir di bibir
keduanya.
Dengan keinginan yang sama,
mereka berdua saling mempertemukan bibir. Membentuk lumatan
lembut penuh perasaan yang
berhasil membuat keduanya bahagia.
Kedua tangan laki-laki itu
bergerak naik, mengusap lengan putih gadisnya. Lalu pada detik
selanjutnya, perut gadis itu
dilingkari oleh pelukan dari belakang. Membuat ciuman itu terhenti
dan gadis itu mengambil
gerak untuk bersandar sempurna dengan nyaman pada tubuh laki-
lakinya.
“Aku sayang banget sama
kamu.” Bisiknya dengan suara rendah. Seraya memberikan kecupan
dibahu gadisnya.
“Aku juga.” Gadis itu
membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan. “Aku selalu takut
kehilangan kamu. Aku nggak
mau kamu kemana-mana bahkan pergi dari hidup aku. Jika hal itu
terjadi, kehancuran yang
untuk kedua kalinya bakal…”
“Akan aku pastikan, hanya
ada satu alasan buat aku pergi ninggalin kamu. Dan itu ketika aku
harus menutup mata dulu
untuk selamanya.” Rambut panjang halusnya dibawa ke belakang
telinga saat laki-lakinya
memberi jawaban.
Gadis itu tersenyum sebagai
tanda lega akan jawaban yang diterima. Atas kebutuhan cinta
hidupnya yang ada pada
laki-lakinya itu, ia tidak yakin jika sebuah bahagia akan tetap ia miliki
saat memilih pergi dari
hidupnya.
“Janji hanya satu alasan itu
aja. Dan itu perintah.” Ujar gadisnya dengan sorot mata berkaca.
“Kamu nggak akan kehilangan
aku.”
Gadis itu menempelkan
tangannya di pipi kekasihnya. Kedua matanya semakin berkaca sebelum
kembali bersuara, “Terima
kasih,” ucapnya. “Kamu berhasil menjadi layaknya lilin yang datang
untuk menerangi duniaku yang
sebelumnya hanya ada gelap,”
“Berkat kamu juga, aku bisa
ngerasain gimana rasanya bahagia kembali. Kamu sudah buat hari-
hari aku berjalan sempurna,”
“Waktu Tuhan memutuskan
untuk ambil Ayah dari aku, Tuhan menggantinya dengan
mendatangkan kamu sebagai
laki-laki pengganti Ayah. Laki-laki yang selalu menjaga aku dan
laki-laki yang selalu ingin
buat aku bahagia,”
Laki-laki itu menghapus air
mata yang luruh dari kedua mata indah gadisnya. “Aku nggak perlu
bilang seberapa besar rasa
cinta dan sayang aku sama kamu. Karena kalau dipikir dua rasa itu
lebih besar dari bumi,
bahkan semesta.” Tentu saja perkataan gadisnya ini sangat ia percayai.
Laki-laki itu memberikan
kecupan hangat pada telapak tangan gadisnya. Lalu menggenggamnya
dengan erat. “Sejak pertama
kali aku lihat kamu. Aku ngak tau rasa yakin itu datang dari mana,
kalau kamu akan menjadi
gadis terakhir dalam hidup aku. Kamu selalu bikin aku ingin terus
mendekat. Lalu aku pikir,
kamu berhak buat aku perjuangkan.”
“Dan, kamu harus tau. Dimana
ketika aku lihat senyum pertama yang kamu tunjukin itu menjadi
sebuah luapan bahagia yang
nggak biasa.” Ada jeda ketika ia terkekeh geli setelah mengucapkan
itu. “Sampai-sampai dulu aku
dibuat nggak bisa tidur akibat mikirin senyum kamu yang indah
itu.”
Tidak perlu menunggu ucapan
selanjutnya dari laki-lakinya, gadis itu bergerak lebih dulu untuk
memeluk.
“Terima kasih sudah begitu
banyak mencintai aku.” Bisik gadis itu.
“I love you, Ayu.” Dan
gadisnya semakin mempererat pelukan.
Tepat ketika gadis itu
semakin nyaman dalam pelukan erat yang hangat itu. Kedua matanya
terbuka. Lalu sektika
diliputi panik yang teramat hebat. Laki-laki yang disayanginya, laki-laki
yang sangat dicintainya
menghilang dalam pelukan mereka.
Dengan tubuh bergetar dan
bingung setengah mati, gadis itu mencoba berdiri. Menggerakkan
kakinya untuk mencari.
Tangisnya yang menghebat membuat ia sulit untuk mengambil napas.
“Kamu di mana?” Teriaknya
dengan suara memilukan. “Jangan tinggalin aku.”
Gadis itu terus memanggil nama
kekasihnya dengan lantang sambil terus berjalan mencari.
Keadaan di pantai itu sangat
sepi. Seperti hanya ada dirinya yang berjalan sendiri untuk mencari
seseorang yang hilang.
Hingga kedua matanya
menangkap sosok yang sedang ia cari itu tengah berjalan memasuki air
pantai. Ia berlari sekencang
mungkin untuk meraih, namun sosok yang sangat disayanginya itu
lebih dulu hilang bersama
air yang menenggelamkannya.
“Gilang!”
Kedua matanya terbuka
sempurna. Napasnya tidak beraturan lalu ia mengambil posisi duduk
untuk menenangkan diri dari
ketakutan yang disebabkan oleh sebuah mimpi.
Ia mengusap kening dan
rambut bagian depannya yang basah oleh keringat. Napasnya masih
belum beraturan. Kemudian
jemari lentiknya terangkat menghapus jejak air mata yang selalu
turun ketika mimpi itu
kembali mendatanginya.
Sebuah bunga tidur yang
selalu berhasil menyakitinya. Kembali membuatnya mengingat akan
kehilangan yang masih belum
mampu ia relakan sampai sekarang.
Ayu menyibak selimut yang
menutupi sebagian tubuhnya lalu turun dari kasur. Kakinya ia
langkahkan ke jendela besar
yang tertutup oleh gorden cokelat. Ayu membuka gorden ke
samping. Lalu kembali
melangkah ke tengah lantai depan jendela.
Lewat pemandangan kota dari
atas apartemen yang ditempatinya sekarang, gadis itu terisak. Air
matanya turun dibarengi oleh
isakan memilukan. “Aku yakin, kalau kamu ada di samping aku
sekarang. Kamu bakal kasih
senyum termanis yang kamu punya.” Isakannya mempersulit
dirinya untuk berkata.
“Terus kamu bakal bawa aku ke pelukan kamu yang hangat itu sambil
suruh aku buat berhenti
sedih.”
Melalui mata yang menerawang
jauh kalimat yang selalu ia harapkan kebenarannya terucap
kembali. “Aku masih yakin,
aku belum benar-benar kehilangan kamu. Kamu akan kembali.”
*************
Note Author
Terima kasih telah membaca.
Lewat prolog ini, kalian
akan dilanjutkan pada kisah beralur mundur. Lewat dua remaja. Kisah
cinta. Penghujung SMA.
Sebantar, biarkan aku
menyapa kalian.
Hello,
Pasti selalu senang setiap
berhasil menulis kisah baru yang aku ciptakan. Dengan ini aku dapat
berbagi kesenangan dan
hiburan melalui tulisan dengan kalian. Cerita ini akan berjalan sesuai
dengan alur yang penting
kalian perhatikan. Cerita ini bergenre teenfiction dengan gabungan
romance di dalamnya. Dimana
akan ditemukan beberapa bagian romance yang aku harapkan
kalian bisa bijak dalam
membacanya.
Aku ingin mengucapkan,
“Semoga jatuh cinta dengan kisah yang kubuat. Dan jangan lupa untuk
bahagia yang para pejuang
hebat yang sudah berjuang dan bisa bertahan samapai hari ini.”
Novita Ria Maulani itu nama
lengkapku dan biasa dipanggil Novita. Bondowoso adalah kota
kelahiranku pada 22 Juni
2000. Aku tinggal di Bondowoso dan melanjutkan studiku di Kampus
UNEJ yang berada di
Bondowoso dengan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Dimana yang artinya aku
berada pada fkultas keguruan dan ilmu pendidika (FKIP) dimana
banyak perempuan yang
katanya sudah berlogo istriable hahaha…
Lanjut ya, hobiku tidak
jelas sebut saja menulis hobiku karena melalui menulis aku mendapat
manfaatnya untuk diriku
sendiri dalam hal kepuasan dan melatih mengembangkan potensi yang
ada dalam diri. Menulis itu
terkadang mengasikkan dan terkadang juga melelahkan. Kesukaanku
ditraktir makanan enak
apalagi sushi.
Lewat kisah ini. Biarkan
sejenak aku menghiburmu, ya, Kawan.
Kisah ini aku katakan
sederhana, namun tidak sesederhana itu saat menyelesaikannya.
Untukmu yang sedang
mengumpulkan keberanian kepada dunia yang selalu berlaku buruk pada
mu. Aku bawakan kisah dua
remaja ini yang semoga saja bisa sedikit menghiburmu lewat
kalimat-kalimat manis hingga
mampu membuatmu tersenyum.
Maaf jika kisah ini tidak
begitu kamu sukai setelah membaca. Tapi, aku menulisnya dengan
rangkaian kalimat yang
sebisa mungkin aku kerjakan. Penuh perasaan. Sungguh.
Bahkan saat menulis cerita
ini, aku menjadi orang yang suka membuang air mata.
Salam,
Novita Ria
yang takuttt banget sama
kecoa ama belalanggg
Nama : Novita Ria Maulani
TTL : Bondowoso, Jawa Timur,
22 Juni 2000
Alamat : Jl Diponegoro no
109
NIM : 200210204168
Prodi : PGSD

0 Komentar