Kamu mungkin tidak cukup baik untuk semua orang, tapi
percayalah. Kamu adalah yang
terbaik untuk seseorang yang kelak pantas mendapatkanmu.
Pantaskan diri kamu untuk berbahagia. Berusaha dan terus
berdoa, serahkan semua hasil yang
kamu peroleh pada Sang Pemilik Semesta.
Itulah yang selalu Ayu tekankan kepada dirinya sendiri.
Alarm yang berbunyi tepat di pukul
05.30 pagi berhasil membangunkan dirinya untuk menyambut
pagi baru di hari ini.
Gadis itu turun dari atas kasur dan mengambil ponselnya,
kemudian berjalan ke arah jendela,
menyibak gorden, lalu membuka jendela dengan mendorongnya
keluar. Kedua matanya
terpejam akibat angin sejuk di pagi hari menerpa
wajahnya. Kedua sudut bibirnya pun
terangkat ke atas hingga membentuk sebuah senyuman.
Ayu akan dengan sangat senang hati memberitahu kalian,
jika ia sangat menyukai langit pagi
yang berwarna biru dan cerah. Baginya ketika ia menerima
sebuah perlakuan buruk dan
sebuah kehilangan di masa yang sudah lalu, membuat ia
secara tak sengaja mengagumi
langit.
Kepada langit, Ayu selalu bisa bercerita sepuas mungkin
tanpa ia perlu mendapat sebuah
balasan atau saran yang tidak ingin ia dengar. Kepada
langit Ayu merasa bebas. Kepada
langit Ayu merasa tenang ketika bercerita. Dan kepada
langit Ayu merasa berani untuk
menumpahkan air mata kerinduan untuk seseorang.
Keasyikan memotret langit dengan kamera ponselnya,
membuat gadis itu tak sadar jika pintu
kamarnya terdorong terbuka.
“Selamat Pagi,” Ayu menoleh dengan menampakkan senyum
manisnya. Rania, Bundanya,
melangkah masuk ke dalam kamar. Mengelus kepala sang anak
lalu mendaratkan sebuah
kecupan kecil di sana.
“Kalau sudah puas lihatin langitnya. Langsung mandi, ya.
Bunda tunggu di bawah.”
Pukul 06.15 Ayu turun dari kamarnya yang berada di lantai
dua. Seragam putih abu-abu yang
terpasang begitu rapi dengan atribut lengkap menjadi
bukti jika Ayu merupakan salah satu
murid yang taat akan tata tertib sekolah. Saat tiba di
ruang makan, tas ransel putihnya ia taruh
di kursi makan sebelahnya. Teh tawar dan nasi goreng
berisikan telur orak-arik telah Rania
siapkan di atas meja makan. Ayu menarik kursi kemudian
duduk dan mulai menyantap
sarapan paginya dengan bersama.
***
Siapa yang mengenal gadis bernama Ayuna Maula Trisya?
Untuk sebagian orang di sekolahnya mungkin memang tidak
banyak yang begitu mengenal
sosok Ayu. Bahkan orang yang mengenal gadis itu
dipastikan dapat dihitung oleh jari. Wajah
cantik yang ia miliki tidak membawanya menjadi seorang
yang terkenal di sekolahnya.
Mungkin hal itu dikarenakan Ayu yang memiliki pribadi
anti-sosial.
Jarang tersenyum hingga kadang setiap orang yang tak
sengaja bertatapan dengannya merasa
seolah terintimidasi.
Itulah Ayu. Gadis pendiam yang lebih memilih sepi dan
ketenangan. Dimana menjadi pusat
perhatian merupakan daftar ter-paling bawah dalam
hidupnya.
Semenjak gadis itu berhasil masuk di SMA Garuda tempat
sekolahnya kini. Ayu semakin
lemah untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Bahkan
parahnya, Ayu sering lupa
dengan nama-nama teman kelasnya sendiri.
Ini adalah tahun terakhir Ayu berada di sekolahnya. Duduk
dibangku kelas 3 membuat gadis
itu semakin sibuk mempersiapkan diri demi sebuh mimpi
yang telah ia rencanakan dengan
rapi dan harus tepat sasaran.
Disisi lain, Ayu cukup bersyukur ketika di tempatkan di
kelas unggulan yang pastinya
berisikan orang-orang terpilih berotak cerdas. Berisikan
dua puluh delapan murid, dengan 22
perempuan dan 6 laki-laki yang tidak akan berubah sampai
lulus. Penghuni kelas 12 IPA 1 itu
juga memiliki karakter pribadi yang tak jauh dari Ayu.
Dominan individualis seolah mampu
mengerjakan semuanya sendiri yang berkaitan dengan tugas.
Ayu juga jarang mendapati
teman-teman perempuannya yang memilih duduk melingkar
ketika istirahat untuk sekedar
membicarakan satu sama lain, atau bahkan menghina
diam-diam.
Disaat teman-temannya bersiap meninggalkan kelas untuk
pergi kelapangan serba guna
mengikuti pelajaran olahraga. Ayu merasakan jelas langkah
seseorang mendekat dengan
helaan napas yang juga terdengar. Dengan kepala yang
mulanya tertunduk memasang tali
sepatu. Ayu mendongak lalu menjatuhkan arah pandangnya
pada gadis yang duduk di kursi
bangku sebelahnya.
Ayu membuka suara, “Ada masalah?” tanyanya yang langsung
diangguki oleh Risa. Teman
sekelasnya yang sering mengajak Ayu untuk mengobrol.
“Tadi malem gue kesel banget, Yu, asli. Mama ngotot
nyuruh gue ambil kedokteran kalau
dapet peluang daftar SNMPTN entar,”
“Kan gue penginnya jadi guru. Guru bukan dokter. Gue
yakin otak gue masih mampu untuk
ambil jurusan PGSD. Kalau gue ambil jurusan kedokteran,
apalagi milih di UI sesuai
permintaan Mama, nggak yakin gue bisa diterima.” Walaupun
Risa berada di kelas unggulan
sekolahnya. Gadis itu masih memiliki perasaan tak yakin
dengan kemampuan dan ilmu yang
ia punya untuk bisa lolos di perguruan tinggi keinginan
orang tuanya.
“Terus?” tanya Ayu. Sebenarnya gadis itu jarang
mengeluarkan banyak kalimat pada Risa.
Risa lah yang selalu berbicara panjang lebar dengan Ayu.
“Gue jadi guru itu bukan semata-mata pengin jadi PNS
dengan gaji tinggi. Tapi, gue pengin
bener-bener jadi tenaga pendidik yang selalu ada buat
mereka. Khususnya buat mereka yang
nggak mampu mengenyam bangku sekolah karena faktor biaya.
Munafik nggak, sih, kalau
gue bilang gitu?”
Risa melanjuti perkataanya, “Gue nggak tau, setelah lihat
anak-anak dijalanan yang pada
ngamen bukannya sekolah, gue jadi tersentuh sekaligus
kasihan. Gue jadi pengin ngajarin
mereka, seenggaknya mereka bisa berhitung dan baca. Tanpa
dibayar pun, gue bakal ikhlas
ngelakuinnya.”
Ayu yang sudah selesai memasang sepatu olahraganya
menoleh ke samping, lalu tersenyum
tipis sembari menepuk pundak Risa.
Ayu tersenyum tipis. “Lo hebat. Lo sudah punya pemikiran
sampai ke sana. Mungkin bakalan
jarang sih, ada orang yang ingin mengajar murid tanpa
dibayar. Lo punya rasa peduli pada
sekitar.” Ucapan Ayu sedikit memelan pada kalimat
terkahir.
“Setiap anak sudah sewajarnya menuruti apa kemauan orang
tuanya. Katanya sih, agar jalan
hidupnya lancar.” Lanjut Ayu lagi.
“Orang tua lo suruh lo jadi seorang Dokter, karena mereka
ingin lihat lo sukses di hari nanti.
Tapi, nggak selamanya keinginan orang tua juga dapat kita
kabulkan. Lo ngerasa seneng
nggak dengan pilihan mereka buat lo?” tanya Ayu yang
mendapat gelengan dari Risa.
“Ya, nggak, lah.” Ucap Risa cepat.
“Kita hidup. Kita juga yang menjalaninya. Orang tua
jadikan sebagai panutan. Lo coba aja
bicara pelan-pelan sama mereka. Jangan terpancing emosi
saat mereka tetap nggak setuju
dengan kemauan lo untuk menjadi guru,”
“Buktikan ke mereka. Kalau diri lo memang cocok untuk
menjadi seorang pengajar. Keluarin
kata-kata lo yang ingin ngajarin anak-anak kurang mampu.
Mungkin orang tua lo bakal
tersentuh sekaligus bangga sama lo sebelum lo jadi guru
beneran.”
Risa tersenyum atas apa ucapan-ucapan Ayu yang diberikan
kepadanya. Ayu memang anak
yang baik, hanya butuh pendeketan bertahap agar bisa
direspons banyak oleh gadis itu.
Seperti apa yang sudah Risa lakukan. Mendekati seorang
Ayu untuk dijadikan sebagai teman
itu sangatlah susah.
Mengingat Ayu cukup tertutup mengenai hidupnya.
“Hari ini lo ngomong banyak sama gue.” Kata Risa, sambil
terkekeh kecil.
“Mulut gue masih berfungsi dengan baik.” Ayu berdiri
sambil membenarkan kaos
olahraganya.
“Gue beruntung punya temen kaya lo, Yu. Thank’s
sarannya.”
Ayu hanya mengangguk merespons ucapan Risa barusan.
Dengan langkah bersisian keluar
kelas, Risa tahu akan beberapa hal yang sangat Ayu
hindari. Dua hal antara lain yang Risa
ketahui adalah Ayu sangat menghindari laki-laki dan
keramaian.
***
Di tempat yang berbeda. Bisa dilihat laki-laki yang duduk
sendiri di bangku paling belakang
merasa tidak peduli dengan apa yang sedang berlangsung.
Memilih tidur ketimbang
mendengarkan suara ibu-ibu cerewet yang menerangkan
materi di depan kelas. Padahal
papan tulis sudah penuh oleh catatan-catatan yang ibu
guru tersebut tulis.
Yang Laki-laki itu pedulikan hanya dirinya. Tidur lebih
ia pilih untuk sekarang ketimbang
mendengar celotehan panjang dari depan sana. Dirinya
sangat mengantuk sebab bergadang
bermain game online yang kini sedang populer di kalangan
kaum laki-laki.
Bahkan gawatnya, laki-laki itu tidak juga mengangkat
kepalanya saat Bu Sanca yang
merupakan guru Kimia paling galak di sekolah, berjalan
mendekati laki-laki tersebut.
Dan teriakan akhirnya menggelegar di dalam kelas itu.
“GILANG!! Sudah saya bilang, jangan pernah tidur waktu
jam pelajaran saya!!”
Laki-laki yang bernama Gilang itu tidak menampakkan gerak
tubuh terkejutnya. Gilang
tampak santai terbangun dari tidur lelapnya di dalam
kelas, menguap seraya menatap Bu
Sanca yang sudah berada di hadapannya.
“Kayak ada yang panggil saya barusan. Siapa ya, Bu?”
Bu Sanca melototkan kedua matanya, geram dan kesal dengan
muridnya yang satu ini. Tanpa
mengulur waktu lama, Bu Sanca langsung menyuruh gilang
untuk keluar dari kelas, 12 IPA
8.
“Keluar kamu!!”
“Disuruh cuci wajah ya, Bu? Biar ngantuk saya hilang
gitu.”
“Keluar, Gilang! Dan jangan masuk sampai pelajaran saya
selesai!”
Gilang menampakkan ekspresi bahagia. Mengangkat kedua
tangannya ke atas lalu
mengusapkan ke wajah seperti orang yang tengah selesai
berdoa.
“Alhamdulillah. Bu Sanca sangat baik. Saya doakan, Bu
Sanca bisa nikah secepatnya. Dapat
jodoh yang baik dunia dan akhirat.” Gilang bangkit dari
kursi dan menyalami tangan Bu
Sanca.
“Saya sudah punya suami dan anak lima, Gilangg!!”
“Yah, padahal saya sudah ada niatan buat jodohin Bu Sanca
sama Pak Rt di wilayah rumah
saya.”
“Gilang!! Cepat keluar!!”
“Siyap, siyap.”
Saat dirinya sudah berada di depan kelas. Gilang masih
sempat-sempatnya untuk berbicara di
depan seluruh teman-temannya.
“Baik banget, ya, Bu Sanca nyuruh gue keluar. Nggak mau
ikutan?”
“KELUAR GILANG!!”
Teman-teman kelasnya hanya bisa tertawa geli melihat
kelakuan Gilang yang tidak ada
takutnya dengan guru. Meski begitu, Gilang adalah anak
yang sangat patuh kepada orang
tuanya. Dia selalu menomor satukan Ibunya. Tidak pernah
mengeluh saat disuruh melakukan
sesuatu walau dirinya sedang lelah sekalipun.
Gilang tidak pernah dibenci oleh teman-teman kelasnya
walau kelakuannya yang terbilang
nakal. Laki-laki itu tidak pernah mengganggu
teman-temannya. Bahkan kepada seluruh
teman perempuannya, Gilang selalu berbuat baik dan
menghormati.
Gilang melangkahkan kakinya ke arah lapangan serba guna.
Terlihat segerombolan anak IPA
yang sepertinya baru selesai menjalani olahraga berjalan
menjauh meninggalkan lapangan.
Gilang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Cowok itu berniat untuk duduk
di tribun yang berada di pinggir lapangan. Persis samping
ruangan penyimpanan bola-bola
basket dan voli.
Namun kakinya mendadak terhenti saat melihat benda kecil
berkilau persis di hadapnnya.
Cukup tiga langkah, Gilang sudah bisa meraih benda itu.
Sebuah kalung.
Sangat indah.
“Lumayan, nih, buat dijadiin emas kawin.”
Gilang meneliti kalung itu, penasaran akan siapa
pemiliknya. Cowok itu tersenyum kecil.
Kemudian memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya
dengan seulas senyum penuh
arti.
*******
Aku selalu berharap kalian bisa terhibur dengan cerita
ini nanti hingga ending. Jangan
lupa untuk bahagi dan tersenyum.
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Novita Ria

0 Komentar