Ayu bingung setengah mati. Gadis itu menyadari sesuatu yang berharga milik dirinya telah

hilang. Ayu mencoba memeriksa meja belajar, lemari bajunya, sampai laci-laci yang berada

di dalam kamarnya. Namun, gadis itu tidak kunjung juga mendapati benda yang ia cari sejak

tadi.

Mata ayu mulai berkaca-kaca. Tangannya sedikit bergetar saat mencari benda tersebut. Ayu

merutuki dirinya sendiri yang sudah sangat ceroboh. Bagaimana bisa gadis itu

menghilangkan kalung pemberian mendiang Ayahnya. Benda yang ia jaga setengah mati

selama belasan tahun.

“Kemana sih kalungnya...” Dirinya mulai lelah dan memilih untuk menangis di atas kasur.

Ayu bukan orang yang gampang menangis, tapi jika sudah berkaitan dengan Ayah dan

ketakutannya, gadis itu akan menjadi sangat lemah.

Kalung itu. Benda berharga yang ia miliki dari sang Ayah. Ayu tidak ingin kehilangan

kalungnya. Hanya benda itu yang bisa menyembuhkan rasa rindu Ayu kepada Ayahnya.

Lalu ponsel Ayu yang berada di atas kasur bergetar. Ada sebuah pesan masuk.

Risa

Ayu.

Ini bukannya kalung lo, ya?

 

Melihat pesan itu sontak membuat tubuh Ayu duduk secara tegak di atas kasur. Dengan cepat

Ayu membalas.

Ayu

Iya, Sa. Itu kalung gue.

Lo tau ada di mana?

Risa

Oh, itu, tadi ada yang ngirim

di grup angkatan. Gue tau lo

gak masuk grup itu.

Gilang anak IPA 8 yang

kirim gambar kalung lo.

Mau gue kirim nomernya?

 

Ayu

Iya, Sa. Kirimin nomornya.

Thanks.

 

Setelah mendapat kiriman nomor kontak dari Risa. Ayu segera mengirim pesan. Ayu tidak

mempedulikan dirinya yang sejak dulu sangat anti sekali untuk mengirim pesan kepada laki-

laki jika itu tidak terlalu penting. Tapi sekarang, situasinya jauh lebih penting. Ini

menyangkut barang pemberian Ayahnya.

Tidak perlu menunggu balasan yang sangat lama. Ayu sudah mendapat balasan.

Ayu

Lo pegang kalung gue.

Balikin besok.

085231218585

Oohhhhhh,

jadi ini kalung lo.

Cowo apa cewek?

Foto profil lo nggak ada,

terus nama emoticon awan.

Ayu

Nggak penting.

Gue mau, kalung gue

lo balikin besok.

085231218585

Yaudah. Lo datang aja

besok ke kelas gue

waktu istirahat.

12 IPA 8.

 

Ayu menghela napasnya. Ia tidak bisa menego untuk meminta bertemu di taman sekolah

yang biasanya sangat sepi. Ayu masih tahu diri. Laki-laki itu sudah menemukan barang

miliknya yang paling berharga.

Yang penting sekarang, besok kalung pemberian Ayahnya bisa kembali kepada dirinya.

Ayu beranjak dari atas kasur. Berjalan ke arah wastafel kamarnya, lalu membasuh wajahnya

yang terlihat sembab di daerah mata. Kemudian setelah selesai, Ayu berjalan ke arah meja

belajar. Dan membuka buku tebal yang berisikan kumpulan soal-soal untuk masuk perguruan

tinggi.

 

***

 

Sesuai permintaan cowok itu tadi malam. Ketika bel istirahat pertama terdengar, guru

melangkah keluar meninggalkan kelas. Ayu segera mungkin membereskan buku-buku yang

sedikit berantakan di atas mejanya. Selama tadi proses belajar berlangsung, Ayu tidak bisa

fokus karena memikirkan kalung berharganya dipegang oleh orang lain.

Risa menawarkan diri untuk ikut menemani Ayu, mereka berdua berjalan bersisian menuju

kelas Gilang. Sesaat Ayu memelankan langkahnya saat melihat segerombolan laki-laki yang

sedang duduk-duduk sambil bercanda gurau di luar kelas. Telapak tangan Ayu mulai basah

seolah melihat segerombolan pria adalah hal yang menakutkan. Sarena kejadian di masa lalu

dulu membuat Ayu menjadi enggan untuk dekat-dekat dengan seorang pria.

“Kenapa, Yu?”

Ayu menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa. Kelasnya yang di ujung sana, kan?” tanya

Ayu sambil menunjuk.

“Iya, di ujung sana. Apa mau gue aja yang ngambil kalungnya? Lo tunggu sini aja atau nggak

balik ke kelas.”

Risa tahu betul mengapa kini wajah Ayu berubah menjadi tegang. Ayu menggelengkan

kepalanya, memberitahu jika dirinya baik-baik saja dan Risa tidak perlu

mengkhawatirkannya.

Ayu melanjutkan langkahnya, membuang rasa takut sejauh mungkin saat melewati

segerombolan siswa-siswa tersebut. Apalagi saat segerombolan siswa itu mencoba

membicarakan dirinya. Ayu jadi semakin risih.

“Anak baru bukan, sih yang di samping Risa?”

“Mana ada anak baru pindah di semester kelas dua belas begini.”

Kedua telinga Ayu masih bisa menangkap jelas pertanyaan tersebut walau dirinya sudah tidak

lagi berjalan di dekat gerombolan siswa-siswa tadi. Jangan tanya bagaimana salah satu cowok

di sana menyebut nama Risa.

Risa Anggari Prasatya. Gadis yang cukup dikenal karena sifat humble yang ia miliki. Aktif di

kegiatan ekstrakulikuler dan sering menyumbangkan piala karate untuk sekolahnya. Selain

otak cerdas yang ia punya, wajah anggun yang ia miliki membuat semua orang akan merasa

tidak bosan saat memandangnya.

Tepat sekali, ada seorang perempuan yang sedang duduk di luar kelas 12 IPA 8 sambil

membaca novel yang ada di tangannya. Ayu mencoba berbicara pada gadis itu.

“Permisi. Bisa minta tolong panggilin...“ Ayu lupa siapa nama laki-laki itu,

“… Gilang.” Risa menyahut melanjutkan perkataan Ayu.

 

Gadis yang diajak bicara oleh Ayu mengangkat kepalanya ke atas. Menatap Ayu lalu

mengangguk, tanpa ada senyuman kecil. Tidak lama kemudian seorang laki-laki keluar.

“Kalung gue.” Ucap Ayu secara langsung. Ayu hanya tidak igin panjang lebar dengan cowok

yang ada di hadapannya kini.

“Oh, jadi lo yang punya kalungnya.” Setelah berkata demikian, Gilang tersenyum lebar. Yang

membuat Ayu mengerutkan keningnya.

Selanjutnya Gilang justru menampakkan wajah terkejut yang terkesan dramatis saat

mengetahui gadis yang berada di samping Ayu.

“Ehh, Risa. Lama kita sudah tidak berjumpa.”

Risa mengehela napas sambil memutar kedua matanya. “Tadi pagi lo nyapa gue di parkiran,

Lang.”

“Oh, iya, ya, lupa gue.” Gilang tertawa kecil. Dan jangan lupakan Ayu yang kini mulai kesal.

“Mana kalung gue?” tanya Ayu tak sabaran.

Gilang menatap Ayu kembali. “Iya, iya, nih,” Gilang mengeluarkan kalung milik Ayu dari

saku celananya lalu menyodorkan pada Ayu yang langsung diambil cepat oleh gadis itu.

Ayu mengamati kalungnya, berharap tidak ada yang lecet sedikit pun. Ayu bernapas lega,

kalungnya baik-baik saja.

Karena Gilang sudah berhasil menemukan kalung berharganya, setidaknya Ayu memberikan

senyum kepada Gilang, walau senyum setipis mungkin dan terpaksa. Namun entah mengapa

Ayu tidak berniat melakukan itu.

“Makasih.” Bahkan nada ucapannya terdengar sangat datar dan dingin. Ayu memutar

tubuhnya. Melangkah pergi dari hadapan Gilang.

“Lang, duluan ya.” Ucap Risa yang akan menyusul langkah Ayu.

Saat Risa hendak berbalik, Gilang menahah lengannya.

“Siapa nama temen lo itu?”

“Ayu. Kenapa? Naksir lo?” tanya Risa beruntun.

“Nanya doang. Sudah sana lo pergi anak kecil.” Gilang malah mendorong tubuh Risa, yang

membuat gadis itu berdecak kesal. Risa berlari kecil menyusul langkah Ayu.

Saat langkah Ayu mulai jauh, tanpa ada yang tahu, Gilang tersenyum penuh arti ke arah Ayu.

Baru kali ini Gilang melihat sosok Ayu di sekolah. Gadis itu kemana saja selama ini. Kenapa

Gilang menemukan gadis itu saat dirinya akan lulus.

Gilang merasakan ada yang beda. Ini sangat aneh dan geli. Kedua matanya tidak bisa berhenti

untuk menatap punggung Ayu yang semakin lama berjalan semakin jauh meninggalkannya.

Gilang memegangi jantungnya yang entah sejak kapan mulai berdetak tak karuan. Laki-laki

itu memasang wajah bodoh. Senyam-senyum sendiri.

“Masa iya gue jatuh cinta secepat ini?” tanyanya entah kepada siapa.

 

***

 

Saat bel pulang sekolah berbunyi Gilang langsung membereskan satu buku dan satu buah

pulpen miliknya yang ada di atas meja. Gilang langsung memasukkan asal kedua benda itu ke

dalam tas.

Guru pengajar sudah keluar dari dalam kelas. Gilang juga ikut segera melangkahkan kakinya

untuk keluar. Tidak peduli dia sudah menabrak berapa orang di koridor. Namun, Gilang

masih tidak lupa untuk berucap kata ‘maaf’ dengan lantang karena telah menabrak.

Kakinya ia arahkan menuju kelas 12 IPA 1 berada. Laki-laki itu mengatur napasnya yang

tadinya sempat tidak karuan karena kelelahan berlari menaiki anak tangga yang terhubung ke

kelas 12 IPA 1.

Gilang tersenyum lebar saat menangkap wajah Ayu yang keluar dari dalam kelas. “Ayu!”

Panggil Gilang dengan volume suara yang cukup keras.

Orang yang dipanggilnya tidak berhenti ataupun menolehkan kepalanya ke belakang. Gadis

itu tetap berjalan dengan santai. Walau rasa terusik timbul karena seorang lelaki yang tidak ia

kenal sudah mencoba memanggil dirinya.

“Ayu,” Gilang mengejar langkah Ayu. Sampai kini tubuh Gilang berdiri persis di hadapan

Ayu yang membuat gadis itu harus menghentikan langkahnya secara mendadak.

Ayu jelas menampakkan raut wajah tidak sukanya. “Permisi. Gue mau lewat.”

Gilang justru tersenyum lebar. “Pulang sama gue, yuk?”

Sudah pasti Ayu akan menolak. Ayu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Memilih

untuk tidak berlama-lama dengan cowok yang sudah ia anggap gila barusan.

“Dikasih tumpangan gratis malah nggak mau.” Gilang masih berusaha dan menyamakan

langkahnya dengan Ayu. Hingga kedekatan yang Gilang ciptakan membuat Ayu risih.

Karena tidak kunjung mendapat respons. Gilang malah menggoyang-goyangkan tas ransel

Ayu dari belakang. “Ayuuu, pulang sama gue, ya? Kapan lagi lo di bonceng sama kembaran

Zayn Malik?”

Ayu sangat terganggu. Sangat. Gadis itu membalikkan badan, manatap Gilang dengan penuh

amarah. Napasnya sedikit menjadi tak beraturan. Desiran aneh dengan ketakutan yang ia

rasakan membuat tangannya yang terkepal basah oleh keringat.

Gilang tersenyum. “Mau pulang sama gue, nih?”

Ayu maju selangkah. Dan hal tak terduga pun terjadi. Ayu mendorong tubuh Gilang dengan

keras hingga laki-laki itu jatuh duduk dengan bokong yang lebih dulu mencium lantai balkon

kelas yang masih ramai.

Semua orang yang ada di sana terpekik kaget melihat itu. Ada yang merasa kasihan kepada

Gilang dan tidak sedikit yang menatap takjub ke arah Ayu yang sudah berani melakukan itu.

 

Risa yang melihat kejadian itu dari belakang, membulatkan matanya akibat kaget lalu

bergegas menghampiri Ayu dan juga Gilang.

Hal pertama yang Risa lakukan ialah membantu Gilang untuk berdiri. Sementara Ayu jelas

langsung memilih pergi dari sana. Sebanyak langkah yang ia ambil, tubuh gadis itu semakin

bergetar hebat. Ayu benci dengan laki-laki. Ayu tidak suka ada laki-laki yang kembali

mengganggunya. Ayu masih ingat betul waktu itu.

Ayu... takut.

Tanpa ia sadari air matanya turun membasahi kedua pipinya yang putih.

Helaan napas terdengar dari mulut Risa. “Lo itu masih nggak tau gimana Ayu. Jangan

macem-macem deh, Lang, sama Ayu. Dia gadis yang beda. Dia nggak kaya cewek yang

pernah lo deketin terus jadiin pacar.”

“Gila. Baru kali ini gue didorong sama cewe sampe jatoh begini.” Gilang menyentuh

lengannya yang kotor akibat terkena debu yang ada di lantai.

Gilang menatap ke arah Risa. “Gue kuat, Sa. Cuma didorong sekali kaya gitu, nggak bakalan

bikin pantat gue jadi tipis.”

Risa menatap Gilang serius. “Lo tertarik sama, Ayu?”

Gilang tersenyum tipis. “Padahal baru tadi gue ketemu sama dia. Eh, gue malah main

langsung suka gini.” Gilang tertawa kecil, mencoba menghibur dirinya sendiri yang faktanya

masih terkejut dengan kejadian barusan.

Mendapati Risa yang diam sambil menatapnya, Gilang berucap lagi. “Cinta emang nggak

kenal waktu dan kepada siapa kita bakalan jatuh cinta, Sa.”

Risa memilih mengangguk sekedar membenarkan ucapan Gilang. Tapi, Risa sedikit khawatir

dengan Gilang. Laki-laki itu masih tidak tahu bagaimana dinginnya Ayu kepada laki-laki.

Risa tahu, jika Ayu hanya mau berinteraksi kepada laki-laki jika ada sesuatu yang sangat

penting saja.

“Bukannya gue nggak suka Ayu disukai sama orang kaya lo, Lang. Tapi... Ayu benar-benar

beda. Dia sulit buat ditaklukin.” Risa menjeda, “Seolah Ayu terlalu menutup dirinya dengan

tembok tinggi yang kokoh. Lo ngerti, kan maksud gue?”

Gilang mengangguk. “Iya, gue ngerti, Sa. Tapi, untuk kali ini gue ingin berjuang untuk yang

kedua kalinya. Berjuang dengan sungguh-sungguh untuk dapetin cewek yang gue mau ajak

hidup bersama. Gue mau ajak Ayu nikah, Sa!” ucap Gilang yang terlihat menggebu-gebu.

Risa tak segan memukul kepala Gilang.

“Jangan gila! Belum aja lulus sekolah sudah mikir sampe ke sana.”

“Nggak apa-apa kali. Gue sudah merencanakan masa depan sejak dini.”

Risa membuang mukanya dan menganggap itu bahan candaan kemudian pamit untuk pulang.

Meninggalkan Gilang yang masih tidak beranjak dari tempat duduk yang menempel pada

dinding salah satu kelas 12 IPA 1 itu.

 

Gilang menatap lurus ke depan. Tidak mempedulikan tatapan setiap orang yang melintas di

hadapannya. Laki-laki itu tertarik dengan Ayu tanpa ada alasan. Ia akan mencoba melawan

semua perkataan tentang bagaimana gadis itu. Gilang juga akan melawan setiap rintangan

yang nantinya akan ia dapatkan dari Ayu sendiri.

Cinta memang seperti itu bukan? Butuh banyak pengorbanan untuk mendapatkannya.

Tidak peduli jika Ayu akan membenci dirinya setelah ini. Karena ia percaya dari benci akan

berubah menjadi cinta.

Dan, menurut Gilang itu bukan mitos. Tetapi sebuah fakta.

******

 

Aku selalu berharap kalian bisa terhibur dengan cerita ini nanti hingga ending. Jangan

lupa untuk bahagi dan tersenyum.

Sampai jumpa di part selanjutnya.

 

Novita Ria